Elatisitas Permintaan

ELASTISITAS PERMINTAAN

amrullah

Dalam kasus perubahan yang berlaku juga sama sifatnya dengan dalam kasus (I), yaitu pergeseran kurva penawaran dari SS menjadi S S menyebabkan keadaan keseimbangan pindah dari titik E ke titik E(. Perpindahan ini berarti harga naik dari P ke V^ dan jumlah yang diperjualbelikan berkurang dari Q menjadi Q . Namun demikian, kalau dibandingkan perubahan dalam kasus (ii) dengan perubahan dalam kasus (i) dengan nyata dapat dilihat bahwa pergeseran dalam penawaran menimbulkan akibat yang berbeda terhadap perubahan harga dan jumlah barang yang diperjualbelikan. Secara umum kita dapat mengemukakan dua kesimpulan berikut:

  • Apabila permintaan agak datar bentuknya (landai), suatu pergeseran kurva penawaran
    akan menimbulkan perubahan harga yang sedikit, tetapi perubahan jumlah yang
    diperjualbelikan cukup besar.
  • Apabila permintaan bentuknya menurun dengan sangat curam, suatu pergeseran keatas kurva penawaran akan menimbulkan perubahan harga yang besar, tetapi perubahan jumlah yang diperjualbelikan adalah relatif kecil.

MANFAAT DARIMENAKSIR ELASTISITAS PERMINTAAN

Apakah manfaat dari kedua kesimpulan di atas kepada perusahaan dan pemerintah? Kepada perusahaan faktor tersebut dapat menjadi landasan dalam menyusun kebijakan penjualannya. .–pabila diketahui sifat responsif permintaan apabila berlaku perubahan harga, dapatlah perusahaan ^lenentukan apakah perlu menaikkan produksi, atau tidak, untuk menaikkan hasil penjualannya. Kalau permintaan adalah seperti dalam kasus menaikkan produksi dan penawaran merupakan -ndakan yang bijaksana karena langkah tersebut akan menimbulkan pertambahan dalam hasil penjualan. Tetapi sekiranya sifat permintaan terhadap produksinya adalah seperti dalam kasus pertambahan penawaran akan merugikan perusahaan karena hasil penjualan akan berkurang. Kepada pemerintah, kedua kesimpulan di atas dapat menjadi alat untuk meramalkan kesuksesan dari kebijakan ekonomi yang akan dilaksanakannya. Misalkan pemerintah ingin mengu dimpor. Kalau permintaan ke atas barang impor tersebut adalah seperti kasus pengurangan tidak banyak menaikkan harga barang tersebut.  Keadaan ku berarti kenaikan harga yang tdaku tidak terlalu membebankan konsumen. Sebaliknya, sekiranya permintaan ke atas barang

TINGKATELASTISITAS PERMINTAAN

Nilai koefisien elastisitas berkisar di antara nol dan tak terhingga. Elastisitas adalah nol apabila perubahan harga tidak akan mengubah jumlah yang diminta, yaitu yang diminta tetap saja jumlahnya waiaupun harga mengalami kenaikan atau menurun. Kurva permintaan yang koefisien elasdsitasnya bernilai noi bentuknya adalah sejajar dengan sumbu tegak. Kurva permintaan yang seperri itu adalah kurva permintaan yang dinamakan tidak elastis sempurna.

Koefisien elastisitas permintaan bernilai tidak terhingga apabila pada suatu harga tertentu pasar sanggup membeli semua barang yang ada di pasar. Berapa pun banyaknya barang yang ditawarkan oleh para penjual pada harga tersebut, semuanya akan dapat terjual. Kurva permintaan yang koefisien elastisitasnya adalah tidak terhingga berbentuk sejajar dengan sumber datar dan sifat permintaan itu dikenal sebagai elastis sempurna.

FAKTOR PENENTU ELASTISITAS PERMINTAAN

Apakah sebabnya permintaan berbagai macam barang berbeda elastisitasnya? Ada beberapa faktor yang menimbulkan perbedaan dalam elastisitas permintaan berbagai barang. Yang terpenting adalah:

  • Tingkat kemampuan barang-barang lain untuk menggantikan barang yang bersangkutan.
  • Persentasi pendapatan yang akan dibelanjakan untuk membeli barang tersebut.
    Banyaknya Barang Pengganti yang Tersedia

Dalam suatu perekonomian terdapat banyak barang yang dapat diganrikan dengan barang-barang Iain yang sejenis dengannya. Tetapi ada pula yang sukar mencari penggantinya. Perbedaan ini menimbulkan perbedaan elastisitas di antara berbagai macam barang. Sekiranya sesuatu barang mempunyai banyak barang pengganti, permintaannya cenderung untuk bersifat elastis. Maksudnya, perubahan harga yang kecil saja akan menimbulkan perubahan yang besar terhadap permintaan. Pada waktu harga naik para pembeli akan merasa enggan membeli barang tersebut; mereka lebih suka menggunakan barang-barang lain sebagai penggantinya, yang harganya tidak mengalami perubahan. Sebaliknya pada waktu harga turun, para pembeli melihat bahwa barang tersebut lebih murah daripada barang-barang penggantinya dan beramai-ramai membeli barang tersebut dan ini menyebabkan permintaannya bertambah dengan cepat.

Permintaan terhadap barang yang tidak, banyak mempunyai barang pengganti adalah bersifat tidak elastis, karena kalau harga naik para pembelinya sukar memperoleh barang pengganti dan oleh karenanya harus tetap membeli barang tersebut, oleh sebab itu permintaannya tidak banyak berkurang; dan kalau harga turun permintaannya tidak banyak bertambah karena tidak banyak tambahan pembeli yang pindah dari membeli barang yang bersaingan dengannya, Dari uraian di atas dapatlah dibuat rumusan berikut: semakin banyak Jenis barang pengganti terhadap sesuatu barang, semakin elastis sifat permintaannya.

Persentasi Pendapatan yang Dibelanjakan

ELASTISITAS PERMINTAAN

Elastisitas permintaan terhadap barang tersebut. Perhatikanlah sikap orang dalam membeli barang-barang yang sangat murah harganya, seperti misalnya minuman ringan. Kalau seseorang itu sudah menyukai suatu jenis minuman ringan tertentu, kenaikan harga minuman ringan tidak akan banyak mempengaruhi permintaannya, la akan tetap membeli jenis minuman ringan yang sama, oleh karena pengeluarannya untuk minuman ringan merupakan bagian yang relatif kecil dari pendapatannya.

Tetapi perhatikanlah permintaan terhadap barang-barang yang agak mahal seperti radio, sepeda motor, dan televisi. Sebelum memutuskan apakah jenis radio, atau sepeda motor, atau televisi yang akan dibeli, orang akan membandingkan harga dari berbagai jenis radio, atau sepeda motor, atau televisi yang ada. Harga akan memainkan peranan yang cukup menentukan dalam melakukan pilihan tersebut. Perbedaan harga dapat menyebabkan orang membatalkan untuk membeli barang dari suatu merek tertentu dan membeli merek lain yang lebih murah. Berdasarkan pengamatan seperti itu dapat dikatakan: semakin bssar bagianpendapatanjang diperlukan untuk membeli sesuatu barang, semakin elastis permintaan terhadap barang tersebut.

Jangka Waktu Analisis

jangka waktu di dalam mana permintaan terhadap sesuatu barang diamati juga mempunyai pengaruh terhadap elastisitas. Semakin lama jangka waktu di mana permintaan itu dianaiisis, semakin elastis sifat pertnintaan sesuatu barang. Dalam jangka waktu yang singkat permintaan bersifat lebih tidak elastis karena perubahan-perubahan yang baru terjadi dalam pasar belum diketahut oleh para pembeli. Oieh sebab itu mereka cenderung untuk meminta barang-barang yang biasa dibelinya walaupun harganya mengalami kenaikan. Dengan demikian dalam jangka pendek permintaan tidak banyak mengalami perubahan. Dalam jangka waktu yang lebih panjang para pembeli dapat mencari barang pengganti yang mengalami kenaikan harga dan ini akan banyak mengurangi permintaan terhadap barang yang dtsebutkan belakangan ini. Juga dalam jangka panjang barang pengganti mengalami perubahan dalam mutu dan desainnya dan akan menyebabkan orang lebih mudah pindah kepada membeli barang pengganti.

ELASTISITAS PERMINTAAN DAN HASIL PENJUALAN

Dalam analisis yang terdahulu telah dinyatakan bahwa perbedaan elastisitas menyebabkan kuantitas penjualan yang semakin besar belum tentu menghasilkan hasil penjualan yang semakin banyak. Dalam uraian di bawah ini secara contoh angka dan secara grafik ditunjukkan sifat hubungan di antara elastisitas permintaan dengan hasil penjualan yang diterima penjual.

KAITANANTARA PERUBAHAN HARGA DAN HASIL PENJUALAN

Hasil penjualan adalah pendapatan yang diterima oleh para penjual dari pembayaran terhadap barang yang dibeli para konsumen. Nilainya adalah sama dengan harga dikalikan dengan jumlah barang yang dibeli para pembeli. Kalau harga berubah maka hasil penjualan dengan sendirinya akan berubah. Bagaimanakah sifat perkaitan di antara perubahan harga dengan hasil penjualan? Adakah kenaikan harga akan selalu menyebabkan juga kenaikan dalam hasil penjualan? Ternyata sifat perkaitannya bukan seperti itu. Sifat perkaitan yang demikian hanya benar apabila perminta^r. adalah tidak elastis. Untuk permintaan yang bersifat elastis kenaikan harga akan menyebabkan penurunan dalam hasil penjualan.

JENIS ELASTISITAS PERMINTAAN YANG LAIN

Pembicaraan tentang elastisitas yang telah dikkukan sampai sekarang ini masih terbatas kepada memperhatikan perkaitan di antara perubahan harga dan permintaan. Konsep elastisitas yang telah dibincangkan mengukur sampai di mana responsifnya permintaan apabila harga mengalami perubahan. Elastisitas seperti itu, yang telah dinyatakan dalam pendahuluan bab ini, dinamakan elastisitas permintaan harga. Selain disebabkan oleh perubahan harga, permintaan juga dapat berubah sebagai akibat dari perubahan faktor-faktor lain. Kita juga dapat melihat sampai di mana perubahan beberapa faktor ini akan menimbulkan perubahan permintaan. Dua faktor yang sering dilihat pengaruh perubahannya terhadap permintaan adalah harga barang lain danpendapatan pembeli.

Leave a comment »

Tanaman Tanjung

Tanaman Tanjung (Mimusops elengi)                                by amrullah

1. Sistematik Tanaman

Menurut Martawijaya, dkk (1989) bahwa sistematika dari tanaman tanjung (Mimusops elengi) adalah sebagai berikut:

Regnufcn       : Plantae

Divisio             : Spermatophyta

Sub divisio   : Angiospermae

Class             : Dicotyledoneae

Ordo               : Ebenales

Family            : Sapotaceae

Genus            : Mimusops

Species          : Mimusops elengi

Batang dari tanaman ini bersudut dan pada pohon yang sangat tua terkadang keras dan padat, berserat halus tetapi dapat dengan mudah retak. Sehingga orang jarang menggunakannya tetapi dalam air dapat bertahan lama (Soerodjotonoio. 1972).

2. Tempat Tumbuh

Tanaman tanjung (Mimusops elengi) diperkirakan terdiri dari 40 marga dan 600 jenis. Terutama sekali merupakan pohon tropika, umumnya di Asia dan Amerika Serikat Tumbuhan ini diduga berasai dari India kemudian menyebar ke Burma (Myanmar), Srilangka dan daerah tropika lainnya (Tantra, 1980).

Tanjung (Mimusops eiengi) berukuran sedang dan dapat juga kecil. Biji-bijinya bila berkecambah dapat dipergunakan untuk perkembangbiakkannya dari cangkokan. Dapat tumbuh pada tanan berpasir, di dataran rendah yang terbuka. tumbuh baik pada ketinggian kurang dari 800 meter di atas permukaan laut (Fantra, 1980).

3. Iklim

Tanaman tanjung mi bias tumbuh ditempat yang berikiim tropika. Seiain itu tanaman itu mudah sekaii di dapatkan disekitar jatan – jalan protocol. Tanaman tanjung ini kurang cocck tumbuh di daerah subtropika karena ikiimnya tidak sesuai dengan pertumDunan tanaman tanjung ini untuk baerkembang biak (Tantra, 1981).

4. Tanah

Hubungan warna tanah dengan kandungan bahan organic didaerah tropika sering tidak sejalan dengan didaerah beriklim sedang (Amerika, eropa). tanah-tanah meran di Indonesia banyak yang mempunyai kandungan bahan organic lebih dari satu persen, sama dengan kandungan bahan organik tanah hitam (Mollisol) di daerah beriklim sedang (Harjowigeno, 2003).

Tanah mempunyai peranan yang penting bagi proses pertumbuhan bagi tanaman khususnya tanaman tanjung, dimana apabila kondisi tanah kurang baik atau kurang subur karena hara yang dimiliki atau yang dikandung sangat sedikit maka pertumbuhan juga akan terhambat (Soekotjo, 1992).

5. Pemanfaatan

Tanaman tanjung banyak dimanfaatkan sebagai pohon pelindung yang terdapat pada jalan – jalan protokol. Seiain itu buah tanjung banyak dimakan oleh burung sehingga penyebaran bibitnya mudah menyebar karena bantuan burung yang memakan buahnya dan menjatuhkannya di tempat yang lain (Tantra, 1981).

Leave a comment »

Mahoni

Tanaman Mahoni (Swetenia macrophylla)

By amrullah

1.  Sistematik Tanaman

Menurut Tantra (1981), bahwa tanaman mahoni (Swetenia macrophylla)
memiliki sistematika sebagai berikut :
Regnum                    : Piantae

Divisio                        : Spermatopyta

Sub division              : Angiospermae

Class                          : Dicotyiedoneae

Ordo                            : Rutates

Family                        : Meliaceae

Genus                        : Swetenia

Species                      : Swetenia macrophylla

Jenis mahoni (Swetenia macrophylla) pada waktu masih muda memiliki batang yang lurus dan tumbuh dengan cepat. Tinggi pohon bisa mencapai 20-50 meter. System perakaran mahoni (Swetenia macrophylla) dapat dibedakan atas tiga bagian, yaitu akar tunggang, akar cabang dan akar permukaan. Bunga dari tanaman ini termasuk bunga majemuk berbentuk cawan, tajuk bunga berbentuk tabung, warna bunga keputih-putihan, kepala sari berwarna coklat dan kepala putik berwarna merah muda (Manan, 1995).

2.  Tempat Tumbuh

Tanaman mahoni (Swetenia macrophylla) dapat tumbuh mulai dari 0-1.000 meter dari permukaan laut. Sedangkan dari segi iklim, jenis ini dapat tumbuh pada temperatur rata-rata 11° C sampai dengan 36o C dengan curah hujan rata-rata 1.524/tahun. Jenis tersebut dapat tumbuh pada tanah dangkal, tanah yang berendapan liat berpasir dalam (Anonim, 1980).

Pohon mahoni (Swetania macroohylla) memiliki tajuk yang berbentuk kubus dengan daun hijau tua, rapat dan dapat menggugurkan daun sehingga beberapa hari sesudah gugur muncul kembali daun muda yang berwarna hijau muda. Pada tanaman muda tajuknya sempit dan berebentuk silindris. Tahan terhadap naungan sehingga mampu bersaing dengan alang-alang atau belukar dalam mendapatkan sinar matahari, khususnya bila ditanam sebagai tanaman reboisasi pada areal alang-alang yang rapat (Bonta, 2000).

3. Iklim

Tanaman mahoni bisa tumbuh dan banyak didapatkan pada daerah yang beriklim tropis. Selain itu, iklim tropis sangat membantu dalam proses pertumbuhannya, dimana mahoni ini cocok tumbuh dan berkembang pada daerah yang beriklim tropis (Manan, 1995).

4. Tanah

Tanah sangat berperan penting dalam proses pertumbuhan tanaman khususnya tanaman mahoni, dimana yang banyak mengandung hara dan bahan organic maka pertumbuhan tanaman juga cepat dan subur dan sebaliknya (LIPI, 1997).

Tanah terdiri dari butir-butiran tanah sebagai ukuran. Bagian tanah yang berukuran lebih dari 2 mm sampai lebih kecii dari pedon disebut fragment batuan (Rock fragment) atau bahan kasar (kerikil sampai batu). Bahan-bahan tanah yang lebih halus (< 2 mm) disebut fraksi tanah halus (fine eart fraction) dan dapat menjadi : Pasir : 2mm – 50µ, debu: 50µ – 2µ dan liat : kurang dari 2µ (Harjowigeno, 2003).

5. Pemanfaatan

Tanaman mahoni banyak dimanfaatkan kayunya sebagai bahan baku industri mebel. Selain itu mahoni juga dijadikan sebagai tanaman pelindung dijalan atau ditaman karena daunya yang rindang dan banyak sehingga bisa menghasilkan nilai ekonomis.

Leave a comment »

Sejarah ESDH

SEJARAH EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN

Oleh :

AMRULLAH

M 121 06 051

FAKULTAS KEHUTANAN

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL HUTAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

PENDAHULUAN

Sumberdaya alam merupakan unsur lingkungan hidup manusia yang sangat penting. Manusia hidup dan berkembang dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada disekitarnya atau lingkungan yang meliputi tanah,air,udara,flora,fauna, mikroorganisme, mineral dan energi.

Indonesia merupakan negara yang kaya potensi sumberdaya hutannya. Indonesia memiliki daratan yang luas yaitu 191.276.950,50 ha yang ditumbuhi dengan hutan tropis yang luas. Menurut data statistik tahun 1998/1999, luas hutan tetap di Indonesia mencapai 58,03% dari seluruh luas wilayah Indonesia yang meliputi Hutan Lindung, Hutan Wisata/Suaka Alam, Hutan Produksi Terbatas dan Hutan produksi seperti tabel dibawah ini.

Tabel 1.  Luas Hutan dan Prosentasenya Terhadap Luas Wilayah Indonesia Tahun 1998/1999.

Jenis Hutan menurut fungsi Luas Areal (Ha) Prosentase terhadap luas daratan Indonesia
T  O  T  A  L 110.988.883,26 58,03

Sumber: Departemen Kehutanan dan Perkebunan, Statistik Planologi Kehutanan Tahun 1998/1999.

Hutan di Indonesia merupakan sumberdaya yang sangat penting karena melingkupi sebagian besar wilayah Indonesia dan menjadi paru-paru dunia. Hutan di Indonesia mempunyai fungsi yang sangat beragam baik dari segi ekonomi maupun dari segi lingkungan. Hutan merupakan habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna karena hutan-hutan di Indonesia  terkenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar. Selain itu hutan yang luas tersebut merupakan benteng pencegah bencana alam. Sebagai wahana penyimpan air misalnya, hutan-hutan di Indonesia menjadi tanggul pencegahan banjir dan erosi.Demikian pula fungsi sebagai penahan laju angin, hutan-hutan tersebut dapat mencegah terjadinya badai. Dengan demikian secara tidak langsung hutan-hutan dapat mempengaruhi keadaan cuaca dan iklim global ( Statistik Lingkungan Hidup Indonesia, 1999).

Hutan mempunyai fungsi yang berbeda sesuai dengan tahap perkembangan ekonomi, dimana dizaman dulu hutan merupakan barang bebas atau “free good”. Pada tahap ini hutan berperan sebagai sumber makanan. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, orang mulai mengenal cara bercocok tanam. Pada tahap ini hutan hutan mulai dilihat sebagai sumber faktor produksi yang paling utama bagi pertanian yaitu tanah, dan mulai membuka kawasan hutan untuk tempat bercocok tanam. Pemanfaatan hutan selanjutnya erat hubungannnya dengan munculnya industri sebagai dimensi baru dalam kehidupan ekonomi manusia. Hutan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai sumber diperolehnya tanah pertanian baru, melainkan sebagai sumber bahan mentah untuk industri.

Sumberdaya hutan merupakan salah satu kekuatan utama pembangunan. Pengertian pembangunan selama tiga dekade yang lalu adalah kemampuan ekonomi nasional yang lebih memfokuskan pada jumlah (kuantitas) produksi dengan penggunaan sumber-sumber salah satunya adalah sumberdaya hutan. Keberhasilan dari perspektif ini dilihat dari tingginya angka Produk Domestik Bruto (PDB).

Sejak awal berdirinya Negara Republik Indonesia, pengelolaan sumberdaya alam, termasuk sumber daya hutan tidak dapat dilepaskan dari cara pandang dan pola pikir para penyelenggara terhadap sumber daya tersebut. Para penyelenggara negara selalu memandang sumber daya alam, termasuk hutan sebagai sumber yang ‘dikuasai’ oleh pemerintahan pusat sebagai representasi dari negara. Cara pandang tersebut tidak lepas dari penafsiran terhadap UUD 19945 pasal 33 ayat 1 (Warsito dalam Anwar, 2002:11).

Di Indonesia, terutama sejak akhir tahun 1960-an, hutan dianggap sebagai sumberdaya alam yang dapat dikuras karena nilai ekonominya yang tinggi (Ramli R, dan Ahmad M, dalam Anwar, 2001,2). Pada periode tersebut kebutuhan akan modal, devisa negara  dan lapangan pekerjaan membuat pemerintahan pusat berniat untuk mengoptimalkan sumberdaya hutan,dengan dikeluarkannya UU No.5 tahun 1967 tentang pokok-pokok pengelolaan hutan yang menitik beratkan pada produksi kayu dan industri perkayuan. Dimana kebijakan tersebut tidak lepas dari paradikma growth dalam menetapkan kebijakan pembangunan perekonomian makro Indonesia guna mengatasi kondisi ekonomi yang rapuh sejak tahun 1965 (Anwar,2001:12).

Walaupun dapat dicapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, akan tetapi pada kenyataannya kebijakan tersebut membawa dampak buruk yang cukup berat diberbagai sektor kehidupan masyarakat dan terhadap kelangsungan sumberdaya hutan tersebut. Dan disinilah kontroversi antara kebijakan ekonomi dan kualitas lingkungan hidup muncul.

Indonesia yang memiliki 10 %hutan tropis yang ada didunia, seiring dengan berjalanyan eksploitasi hutan tropis tersebut, ditengarai mengalami laju kerusakan yang serius, yang diperkirakan mencapai 600.000 – 1.300.000 hektar per tahun (Alikodra dalam Anwar, 2001:38). Forest watch Indonesia dan Global Forest Watch menggambarkan laju deforestasi di Indonesia diantara tahun 1985 – 1997 yaitu :

Tabel 2. Kawasan Hutan dan Deforestasi, 1985-1997(perkiraan GFW)

Lokasi 1985 (Set Data WCMC yang dianalisis oleh GFW) 1997 (Set Data GoI/Bank Dunia yang dianalisis oleh GFW) Perubahan
Pulau Luas

Lahan (Ha)

Hutan

(Ha)

% Luas

Lahan (Ha)

Hutan

(Ha)

% Perubahan Luas Hutan 1985-1997 %
Sumatera 47.581.650 22.938.825 48 47.574.550 16.430.300 35 -6.508.525 -28
Jawa 13.319..975 1.274.600 10 13.315.550 1.869.675 14 595.075 47
Bali 563.750 96.450 17 563.150 76.700 14 -19.750 -20
Nusa Tenggara 6.645.625 686.775 10 6.639.925 450.450 7 -236.325 -34
Timor Timur 1.498.500 374.400 25 1.497.525 9.850 1 -364.554 -97
Kalimantan 53.721.675 39.644.025 74 53.721.225 29.637.475 55 -10.006.550 -25
Sulawesi 18.757.575 11.192.950 60 18.753.025 7.950.900 42 -3.242.050 -29
Maluku 7.848.175 5.790.800 74 7.848.600 5.820.975 74 30.175 1
Irian jaya 41.405.500 35.192.725 85 41.403.850 33.382.475 81 -1.810.250 -5
Total 191.342.425 117.191.550 61 191.315.400 95.628.800 50 -21.562.750 -18

Sumber :FWI dan GFW, 2001 (Dalam Anwar, 2001:38)

Pengurangan luas hutan tersebut kebanyakan disebabkan oleh konversi hutan menjadi bentuk penggunaan lain seperti perkebunan dan lahan transmigrasi yang alih fungsinya sering dilakukan seiring rusaknya kawasan konsensi HPH, yang sering dijadikan penyelamat pemegang konsensi yang tidak dapat memperbaiki kondisi hutan diwilayah konsensinya.Barber,dkk (1999:10-12) deforestasi hutan di Indonesia mempunyai lima sebab utama, yaitu (1)  semakin banyaknya petani berpindah yang menanam baik tanaman untuk bertahan hidup maupun tanaman perdagangan, (2) kegiatan perusahaan kayu besar-besaran, (3) konversi hutan alam menjadi pertanian niaga dan perkebunan berskala besar,(4) program transmigrasi resmi pemerintah, yang memukimkan kembali penduduk pulau Jawa dan Bali yang telah padat ke lahan-lahan hutan yang telah ditebang di pulau-pulau yang kurang padat penduduk (5) perluasan penambangan, produksi dan eksplorasi minyak dan bentuk-bentuk pengembangan industri lainnya ke wilayah hutan.

Kondisi hutan yang terdegradasi akibat eksploitasi hutan yang terjadi selama lebih dari tiga dekade juga terlihat dari semakin hilangnya hutan dataran rendah dan mangrov, yang selama ini menjadi kekayaan yang sangat besar yang dimiliki oleh Indonesia sebagai negara kepulauan. Kehilangan hutan dataran rendah dan magrove ini sangat terasa di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, sebagai pusat eksploitasi sumberdaya hutan. Global Forest Watch dan Forest Watch Indonesian menggambarkan kehilangan hutan dataran rendah di tiga pulau besar di Indonesia sebagai berikut :

Tabel  3 : Kehilangan hutan dataran rendah di Sumatera, Kalimantan dan  Sulawesi

Pulau

Asumsi Tutupan hutan pada tahun 1900 ( (Ha) Tutupan hutan pada tahun 1985 (Ha) Tutupan hutan pada tahun 1997 (Ha) Estimasi kehilangan 1985-1997 (Ha) Estimasi kehilangan 1985-1997 (%)
Sumatera 16.000.000 5.559.700 2.168.300 3.391.400 61
Kalimantan 17.500.000 11.111.900 4.707.800 6.404.100 58
Sulawesi 2.200.000 546.300 60.000 486.300 89
Total 35.700.000 17.217.900 6.936.100 10.281.800 60

Sumber :GFW dan FWI, Holmes, D.200.”Deforestation in Indonesia, A Review of the situation in 1999” Jakarta :World Bank, (dalam Anwar, 2001:39)

Tabel diatas menunjukan bahwa sekitar 60 % hutan dataran rendah di tiga pulau terbesar Indonesia itu telah habis ditebang dalam kurun waktu 12 tahun, yaitu tahun 1985-1997. Kerusakan hutan tersebut juga membawa akibat ikutan berupa bencana kabut seperti yang sering terjadi pada tahun-tahun terakhir ini yang sebagian besar melanda daerah Sumatera dan Kalimantan dan juga beberapa negara tetangga kita.

Penggunaan sumberdaya alam untuk masa datang secara langsung perlu dihubungkan dengan apa yang disebut sebagai imbangan antara penduduk dan sumberdaya alam. Apabila penduduk membutuhkan terlalu banyak barang dan jasa, maka munculah kebutuhan untuk meningkatkan penggalian sumberdaya untuk pemenuhan kebutuhannya. Namun dampaknya adalah justru berupa memburuknya kondisi fisik dari dunia ini, dan sayangnya masyarakat sangat lamban dalam menemukan pemecahan terhadap masalah yang timbul.

Karena pentingnya dalam kehidupan manusia, maka pengelolaan sumberdaya hutan harus dilakukan dengan bijak, untuk menjaga keberadaan hutan itu sendiri. Eksploitasi sumberdaya hutan demi mendapatkan hasil hutan kayu akan menimbulkan kerusakan, yang pada saatnya akan menyulitkan kehidupan manusia dimasa yang akan datang. Kerusakan hutan yang dapat mengakibatkan ketiadaan hutan dimasa yang akan datang tidak hanya akan merugikan generasi mendatang karena tidak meniikmati kayu, akan tetapi yang lebih dari itu, kerusakan hutan akan dapat mengancam kehidupan generasi mendatang.

Menurut MacKinnon (dalam Anwar, 2002), menyatakan bahwa kesadaran tentang pentingnya keberadaan hutan beserta ekosistemnya itu kemudian menjadi landasan pengelolaan sumberdaya hutan, yang disebut dengan kelestarian. Namun demikian, pelestarian hutan bukan berarti melindungi hutan dengan membabi buta, tanpa pemanfaatan sama sekali. Kelestarian hutan disini dapat diartikan sebagai kelestarian hutan sebagai sumberdaya yang siap berproduksi. Oleh karena itu, kelestarian hutan bukan kemudian mengharuskan hutan untuk steril dari campur tangan manusia dan sama sekali tidak dimanfaatkan.

Sebagai salah satu kekuatan utama pembangunan, maka perlu dijaga keberadaannya, ditingkatkan potensi, mutu, jumlah dan kualitasnya. Hal ini dimaksudkan agar sumberdaya hutan dapat menjadi subyek dan obyek pembangunan dalam artian dapat mendukung dan berperan pada penyelenggaran pembangunan secara menyeluruh, berlanjut dan terus-menerus. Dengan perkataan lain dapat dinyatakan bahwa pembangunan nasional juga merupakan fungsi dari sumberdaya hutan. Dengan demikian sumberdaya hutan yang merupakan kekayaan nasional dapat didaya gunakan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dan masyarakat Indonesia. Hal ini tidak saja untuk masa kini tetapi untuk masa depan yang sangat panjang.

Untuk itu, Pemerintah Indonesia dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup berdasarkan kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa mendatang, telah mengeluarkan UU no. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup dan UU no.25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun 2000-2004, dimana salah satu prioritas pembangunan nasional  adalah mempercepat pemulihan ekonomi dan memperkuat landasan pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan yang berdasarkan sistim ekonomi kerakyatan.

Pertumbuhan ekonomi

Boediono (1999:1) secara singkat menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang.  Wijaya (1992:640) mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah merupakan suatu proses di mana terjadi kenaikan produk nasional bruto atau pendapatan nasional riil, pertumbuhan ekonomi itu terjadi apabila ada kenaikan output per kapita.  Berdasarkan kedua definisi tersebut jelas bahwa pertumbuhan ekonomi menekankan pada tiga aspek, yaitu suatu proses yang berarti perubahan yang terjadi terus menerus, usaha untuk menaikkan pendapatan per kapita dan kenaikan pendapatan per kapita harus terus berlangsung dalam jangka panjang. Ketiga aspek ini, sesungguhnya memberikan indikasi tentang aktivitas perekonomian atau tambahan pendapatan bagi masyarakat yang terjadi pada suatu negara atau daerah pada suatu periode tertentu.  Atas dasar tersebut, maka pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk menganalisis pembangunan ekonomi di suatu negara atau di daerah.

Kuznet (1972) mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian kelembagaan dan ideologi yang diperlukan (lihat Jhingan, 1999:57).  Pertumbuhan ekonomi yang tinggi seringkali tidak dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat suatu negara, apabila meningkatnya laju pertumbuhan penduduk  lebih tinggi dari laju pertumbuhan pendapatan nasional.  Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus diimbangi dengan menekan laju pertumbuhan penduduk serta penciptaan dan perluasan kesempatan kerja bagi penduduk agar pemerataan pendapatan dapat diwujudkan.

Menurut Todaro (1997:140), faktor-faktor pertumbuhan ekonomi yang penting dalam masyarakat adalah (1) Akumulasi modal, termasuk semua investasi dalam bentuk tanah, peralatan fisik dan SDM; (2)perkembangan  Perkembangan populasi dan karenanya terjadi pertumbuhan dalam angka angkatan kerja walaupun terlambat; (3) kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi

Teori pertumbuhan Neoklasik menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi tergantung pada penambahan penyediaan faktor-faktor produksi berupa penduduk, tenaga kerja, akumulasi modal dan tingkat kemajuan teknologi (Arsyad, 1999:62-64).  Pandangan teori ini didasarkan pada anggapan klasik yaitu perekonomian akan tetap mengalami tingkat pengerjaan penuh (full employment) dan kapasitas peralatan modal akan sepenuhnya digunakan sepanjang waktu.  Salah satu teori yang membahas fakta-fakta yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah teori pertumbuhan ekonomi Neoklasik atau yang dikenal dengan model pertumbuhan Solow (Mankiw, 2000:81).

Teori pertumbuhan Neoklasik ini pada umumnya didasarkan pada fungsi produksi yang dikembangkan oleh Charles Cobb dan Paul Douglas yang sekarang dikenal dengan sebutan fungsi Cobb-Douglas.  Fungsi tersebut ditulis sebagai berikut (Arsyad, 1999:58)

Qt = A Kta Ltb

Qt adalah tingkat produksi pada tahun ke-t , Kt adalah jumlah stock modal tahun ke-t, Lt adalah Jumlah Tenaga Kerja, A adalah konstanta, a adalah pertumbuhan output yang diciptakan pertambahan satu unit modal, b adalah pertambahan output yang diciptakan oleh pertambahan satu unit tenaga kerja.

Menurut Suparmoko (1997:10) bahwa Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tersedianya sumberdaya alam tidak sama dengan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tersedianya barang sumberdaya yang dipakai dalam proses produksi. Semakin cepat pertumbuhan ekonomi akan semakin banyak barang sumberdaya yang diperlukan dalam proses produksi yang pada gilirannya akan mengurangi tersedianya sumberdaya alam yang ada dalam bumi karena barang sumberdaya itu harus diambil dari tempatpersedian (stock) sumberdaya alam. Jadi dengan semakin menggebunya pembangunan ekonomi di negara yang sedang berkembang termasuk negara Indonesia karena merasa tertinggal dari negara lain dan ingin menghilangkan adanya kemiskinan dinegara tersebut, maka akan berarti semakin banyak barang sumberdaya alam yang diambil dari dalam bumi dan semakin sedikitnya jumlah persediaan sumberdaya alam tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan ada hubungan yang positif antara jumlah dan kuantitas barang sumberdaya dan pertumbuhan ekonomi, tetapi sebaliknya ada hubungan yang negatif  antara pertumbuhan ekonomi dan tersedianya sumberdaya alam yang ada didalam bumi..

Oleh karena itu perlu diingat bahwa dengan adanya pembangunan yang sangat cepat, apabila tidak berhati-hati, pasti pembangunan itu akan dapat segera menguras sumberdaya alam yang ada di negara yang bersangkutan, dan pada gilirannya barang sumberdaya yang diperlukan bagi pembangunan juga akan terbatas adanya, sehingga hal ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi lebih lanjut (Suparmoko,1997)

Pembangunan yang dilaksanakan dengan harapan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang pesat serta memberikan keuntungan seperti perluasan kesempatan kerja, kesempatan berusaha, pemerataan pembangunan, kesejahteraan masyarakat, kelestarian lingkungan dan umtuk memperoleh devisa, pada kenyataannya menimbulkan dampak terhadap keseimbangan lingkungan. Hal ini disebabkan banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh pemegang konsensi hutan, dimana HPH sebagai pemegang konsensi hutan lebih mementingkan aspek mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa mengindahkan aspek lingkungan.

Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk semakin banyak diperlukan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan penduduk tersebut. Peningkatan jumlah barang dan jasa dengan sendirinya memerlukan lebih banyak barang sumber daya sebagai sala satu faktor produksi yang akan diolah bersama faktor-faktor produksi lainnya. Pertumbuhan penduduk yang tinggi juga dapat mengakibatkan pengurangan sumber daya hutan karena pemanfaatan areal hutan untuk areal hunian manusia.

Di Pulau Jawa, faktor pertumbuhan penduduk dan peningkatan permintaan hasil perkebunan yang pesat, swerta  mempengaruhi dan membentuk  pola pemanfaatan hutan. Diluar Pulau Jawa kedua faktor tersebut juga berlaku, namun faktor meningkatnya permintaan kayu tropis, sangat menentukan perkembangan pemanfaatan hutan di daerah ini. Selama 200 tahun terakhir, hutan di Indonesia telah berperan sebagai sumber bahan mentah industri, dan akan lebih menonjol untuk 10 – 20 tahun kedepan (Prabowo dan Reksohadiprodjo, 1985)

Dengan berkembangnya jumlah penduduk, perekonomian harus lebih banyak menyediakan barang dan jasa demi mempertahankan atau mempertinggi taraf hidup satu bangsa. Namun peningkatan produksi barang dan jasa akan menuntut lebih banyak produksi barang sumberdaya alam yang harus digali atau diambil dari persediaannya. Sebagai akibat sumberdaya alam semakin menjadi menipis. Disamping itu pencemaran lingkungan semakin meningkat pula denga semakin lajunya pertumbuhan ekonomi. Jadi dengan pembangunan ekonomi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi akan terjadi pula dua macam akibat yaitu disatu pihak memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia berupa semakin tersedianya barang dan jasa dalam perekonomian dan di lain pihak berdampak negatif bagi kehidupan manusia yang berupa pencemaran lingkungan dan menipisnya persediaan sumberdaya alam. Oleh karena itu pembangunan ekonomi haruslah bersifat pembangunan yang berwawasan lingkungan atau pembangunan yang berkelanjutan dan tidak menguras sumberdaya alam (Suparmoko, 1997).

Data sekunder yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dengan mempergunakan alat analisis regresi. Analisis regresi berkaitan dengan studi mengenai ketergantungan suatu variabel dependen dengan maksud untuk mengestimasi atau meramalkan nilai rata-rata populasi variabel dependen berdasarkan nilai tetap variabel independent (Gujarati, 1995:16).

Model estimasi yang digunakan dalam studi ini adalah metoda regresi kuadrat terkecil biasa (ordinari Least Square). Metoda OLS ini dipakai karena : (1) estimasi parameter yang diperoleh memiliki karakteristik optimal yaityu tidak bias (unbiased), mempunyai varians minimum, efisien, linier dan BLUE, (2) prosedur pengujiannya cukup sederhana dibandingkan metode lain serta mudah dipahami (Gujarati, 1995:545).

Kesimpulan

Berdasarkan  regresi dengan model regresi linear biasa diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut.

1.  Pertumbuhan ekonomi memberikan efek negatif dan signifikan terhadap luas hutan di 8 (delapan) Propinsi di Sumatera .  Dimana dengan setiap kenaikan  nilai PDRB sebesar Rp.1000.000 mengakibatkan  luas hutan akan berkurang sebesar 4,79 ha. Dengan demikian hipotesis pertama yang menyebutkan bahwa   pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kelestarian hutan terbukti.

2.  Jumlah penduduk memberikan efek negatif dan signifikan terhadap luas hutan di 8 (delapan) Propinsi di Sumatera .  Dimana dengan setiap kenaikan  jumlah penduduk sebesar mengakibatkan  luas hutan akan berkurang sebesar 1,64 ha. Dengan demikian hipotesis kedua  yang menyebutkan bahwa   jumlah penduduk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kelestarian hutan terbukti.  Jumlah penduduk memberikan efek negatif dan signifikan terhadap luas hutan di 8 (delapan) Propinsi di Sumatera .  Dimana dengan setiap kenaikan  jumlah penduduk sebesar mengakibatkan  luas hutan akan berkurang sebesar 1,64 ha. Dengan demikian hipotesis kedua  yang menyebutkan bahwa   jumlah penduduk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kelestarian hutan terbukti.

3.  Produksi kayu bulat memberikan efek negatif dan signifikan terhadap luas hutan di 8 (delapan) Propinsi di Sumatera .  Dimana dengan setiap kenaikan  produksi kayu bulat sebesar 1 m3 mengakibatkan  luas hutan akan berkurang sebesar 0,62 ha. Dengan demikian hipotesis ketiga yang menyebutkan bahwa   produksi kayu bulat berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kelestarian hutan terbukti.

Hutan sebagai modal pembangunan Nasionalmemiliki mamfaat yang nyata bagi kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia, baik mamfaat ekologi, sosial budaya maupun ekonomi, secara seimbang dan dinamis. Untuk itu hutan harus diurus dan dikelola, dilindungi dan dimanfaatkan secara berkesinambungan bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia, baik generasi sekarang maupun yang akan datang.

Pengelolaan sumber daya alam dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan tidak hanya mempertimbangkan manfaat kekayaan alam itu dalam sesaat dengan keuntungan yang sebesar-besarnya tetapi yang diperlukan adalah pengelolaan yang tepat demi kelestarian pembangunan jangka panjang yaitu dengan cara  menginternalisasikan eksternalitas negatif yang disebabkan oleh pembangunan ekonomi, maka perlu dilakukan tindakan-tindakan antara lain :

–  Dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi tidak hanya terfokus pada eksploitasi sumber daya hutan ( hutan alam ) akan tetapi perlu mengembangkan sumber daya alternatif atau mencari sumber daya pengganti sehingga sumber daya alam yang terbatas jumlahnya dapat disubtitusikan dengan sumber daya alam jenis yang lain seperti  perlunya dikembangkan pola Hutan Tanaman Industri( HTI ) dan pengembangan hutan rakyat.

– Dalam rangka memperoleh manfaat yang optimal dari hutan dan kawasan hutan bagi kesejateraan masyarakat, maka pada prinsipnya semua hutan dan kawasan hutan dapat dimanfaatkan dengan tetap memperhatikan sifat karakteristik, dan kerentanannya, serta tidak dibenarkan mengubah fungsi pokoknya. Pemanfaatan hutan dan kawasan hutan harus disesuaikan dengan fungsi pokoknya, yaitu fungsi konservasi, lindung, dan produksi. Untuk menjaga keberlangsungan fungsi pokok hutan dan kondisi hutan, dilakukan juga upaya rehabilitasi serta reklamasi hutan dan lahan, yang bertujuan selain mengembalikan kualitas hutan juga meningkatkan pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga peran serta masyarakat merupakan inti keberhasilannya. Kesesuaian ketiga fungsi tersebut sangat dinamis dan yang paling penting adalah agar dalam pemanfaatannya harus tetap sinergi. Untuk menjaga kualitas lingkungan maka didalam pemanfaatan hutan sejauh mungkin dihindari terjadinya konversi dari hutan alam yang masih produktif menjadi hutan tanah

–  Dalam pemanfaatan sumber daya hutan, ekploitasi sumber daya hutan harus dilaksanakan secara efisien, dengan hati-hati  dan tindakan yang mengarah pada pengrsrakkan  perlu dicegah.

–  Selanjutnya perlu dilakukan perencanaan untuk konservasi hutan dengan cara tebang pilih, pelaksanaan program reboisasi dan penghijauan

–  Perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya peranan hutan dalam ekologi dan ekonomi sehingga tercipta kesadaran dalam pelestarian sumber daya hutan.

–  Dalam pengurusan hutan secara lestari diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas bercirikan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didasari dengan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itu perlu dilaksanakan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, serta penyuluhan kehutanan yang berkesinambungan dengan wajib memperhatikan kearifan tradisional serta kondisi sosial budaya masyarakat

–  Perlu adanya penegakan hukum dan aturan-aturan dalam bidang kehutanan sehingga tujuan dari hukum dan aturan-aturan tersebut dapat melindungi dan menjaga kelestarian hutan agar dapat berfungsi dan memberikan mamfaat bagi kesejahteraan masyarakat secara lestari.

–  Perlunya peran serta masyarakat atau perorangan dalam pengawasan pelaksanaan pembangunan kehutanan baik langsung maupun tidak langsung sehingga masyarakat dapat mengetahui rencana peruntukan hutan, pemanfaatan hasil hutan dan informasi mengenai kehutanan

DAFTAR PUSTAKA

Budianta, E. 1997. Eksekutif Bijak Lingkungan. Yakarta.

Forest Watch Indonesia. 2001. Potret Hutan Indonesia. FWI. Bogor

Leave a comment »

SIG

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)

PENDAHULUAN

Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.

Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.

Sekitar 35000 tahun yang lalu, di dinding gua Lascaux, Perancis, para pemburu Cro-Magnon menggambar hewan mangsa mereka, juga garis yang dipercaya sebagai rute migrasi hewan-hewan tersebut. Catatan awal ini sejalan dengan dua elemen struktur pada sistem informasi gegrafis modern sekarang ini, arsip grafis yang terhubung ke database atribut.

Pada tahun 1700-an teknik survey modern untuk pemetaan topografis diterapkan, termasuk juga versi awal pemetaan tematis, misalnya untuk keilmuan atau data sensus.

Awal abad ke-20 memperlihatkan pengembangan “litografi foto” dimana peta dipisahkan menjadi beberapa lapisan (layer). Perkembangan perangkat keras komputer yang dipacu oleh penelitian senjata nuklir membawa aplikasi pemetaan menjadi multifungsi pada awal tahun 1960-an.

Tahun 1967 merupakan awal pengembangan SIG yang bisa diterapkan di Ottawa, Ontario oleh Departemen Energi, Pertambangan dan Sumber Daya. Dikembangkan oleh Roger Tomlinson, yang kemudian disebut CGIS (Canadian GIS – SIG Kanada), digunakan untuk menyimpan, menganalisis dan mengolah data yang dikumpulkan untuk Inventarisasi Tanah Kanada (CLI – Canadian land Inventory) – sebuah inisiatif untuk mengetahui kemampuan lahan di wilayah pedesaan Kanada dengan memetakaan berbagai informasi pada tanah, pertanian, pariwisata, alam bebas, unggas dan penggunaan tanah pada skala 1:250000. Faktor pemeringkatan klasifikasi juga diterapkan untuk keperluan analisis.

CGIS merupakan sistem pertama di dunia dan hasil dari perbaikan aplikasi pemetaan yang memiliki kemampuan timpang susun (overlay), penghitungan, pendijitalan/pemindaian (digitizing/scanning), mendukung sistem koordinat national yang membentang di atas benua Amerika , memasukkan garis sebagai arc yang memiliki topologi dan menyimpan atribut dan informasi lokasional pada berkas terpisah. Pengembangya, seorang geografer bernama Roger Tomlinson kemudian disebut “Bapak SIG”.

CGIS bertahan sampai tahun 1970-an dan memakan waktu lama untuk penyempurnaan setelah pengembangan awal, dan tidak bisa bersaing denga aplikasi pemetaan komersil yang dikeluarkan beberapa vendor seperti Intergraph. Perkembangan perangkat keras mikro komputer memacu vendor lain seperti ESRI, CARIS, MapInfo dan berhasil membuat banyak fitur SIG, menggabung pendekatan generasi pertama pada pemisahan informasi spasial dan atributnya, dengan pendekatan generasi kedua pada organisasi data atribut menjadi struktur database. Perkembangan industri pada tahun 1980-an dan 1990-an memacu lagi pertumbuhan SIG pada workstation UNIX dan komputer pribadi. Pada akhir abad ke-20, pertumbuhan yang cepat di berbagai sistem dikonsolidasikan dan distandarisasikan menjadi platform lebih sedikit, dan para pengguna mulai mengekspor menampilkan data SIG lewat internet, yang membutuhkan standar pada format data dan transfer.

Indonesia sudah mengadopsi sistem ini sejak Pelita ke-2 ketika LIPI mengundang UNESCO dalam menyusun “Kebijakan dan Program Pembangunan Lima Tahun Tahap Kedua (1974-1979)” dalam pembangunan ilmu pengetahuan, teknologi dan riset.

ISI

Konsep dasar Sistem Informasi Geografis

Pertengahan 1970-an telah dikembangkan sistem-sistem yang secara khusus dibuat untuk menangani masalah informasi yang bereferansi geografis dalam berbagai cara dan bentuk. Masalah-masalah ini mencakup:

  1. Pengorganisasian data dan informasi.
  2. Penempatan informasi pada lokasi tertentu.
  3. Melakukan komputasi, memberikan ilusi keterhubungan satu sama lainnya (koneksi), beserta analisa-analisa spasial lainnya.

// Sebutan umum untuk sistem-sistem yang menangani masalah-masalah tersebut adalah Sistem Informasi Geografis. Dalam literatur, Sistem Informasi Geografis dipandang sebagai hasil perpaduan antara sistem komputer untuk bidang Kartografi (CAC) atau sistem komputer untuk bidang perancangan (CAD) dengan teknologi basis data (data base).

Pada awalnya, data geografis hanya disajikan di atas peta dengan menggunakan symbol, garis dan warna. Elemen-elemen geografis ini dideskripsikan di dalam legendanya misalnya: garis hitam tebal untuk jalan utama, garis hitam tipis untuk jalan sekunder dan jalan-jalan yang berikutnya.

Selain itu, berbagai data yang di-overlay-kan berdasarkan sistem koordinat yang sama. Akibatnya sebuah peta menjadi media yang efektif baik sebagai alat presentasi maupun sebagai bank tempat penyimpanan data geografis. Tetapi media peta masih mengandung kelemahan atau keterbatasan. Informasi-informasi yang disimpan, diproses dan dipresentasikan dengan suatu cara tertentu, dan biasanya untuk tujuan tertentu pula, tidak mudah untuk merubah presentasi tersebut karena peta selalu menyediakan gambar atau simbol unsur geografis dengan bentuk yang tetap walaupun diperlukan untuk kebutuhan yang berbeda.

Definisi Sistem Informasi Geografis

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu prosedur manual atau beberapa set berbasis komputer dari prosedur-prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan atau memanipulasi data geografis. SIG dapat juga diartikan sebagai himpunan atau kumpulan yang terpadu dari hardware, software, data dan liveware (orang-orang yang bertanggungjawab dalam merancang, mengimplemantasikan dan menggunakan SIG). SIG juga merupakan hasil dari perpaduan disiplin ilmu didalam beberapa proses data spasial. Hal ini dapat dilihat dari gambar berikut ini

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, maka Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat berfungsi sebagai: bank data terpadu, yaitu dapat memandu data spasial dan non spasial dalam suatu basis data terpadu; sistem modeling dan analisi, yaitu dapat digunakan sebagai sarana evaluasi potensi wilayah dan perencanaan spasial; sistem pengelolaan yang bereferensi geografis, yaitu untuk mengelola operasianal dan administrasi lokasi geografis; sebagai sistem pemetaan komputasi, yaitu sistem yang dapat menyajikan peta sesuai dengan kebutuhan.

Subsistem SIG

Sistem Informasi Geografis dapat diuraikan menjadi beberapa subsistem sebagai berikut:
a. Data Input: Subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan data dan mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber dan bertanggung jawab dalam mengkonversi atau mentransfortasikan format-format data-data aslinya kedalam format yang dapat digunakan oleh SIG.
b. Data output: Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian basis data baik dalam bentuk softcopy maupun bentuk hardcopy seperti: tabel, grafik dan peta.
c. Data Management: Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun data atribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, di-update dan di-edit.
d. Data Manipulation & Analysis: Subsistem ini menentukan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG dan melakukan manipulasi serta pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.

Gambar Subsistem-subsistem SIG

Jika subsistem SIG tersebut diperjelas berdasarkan uraian jenis masukan, proses, dan jenis keluaran yang ada didalamnya, maka subsistem SIG dapat juga digambarkan sebagai berikut:

//

http://imamwardany.com/sistem-informasi-geografis/

APLIKASI SIG UNTUK KEHUTANAN TROPIS

Hutan tropis merupakan ekosistem dan juga sumber daya alam yang penting, baik secara lokal maupun global. Beberapa fungsi dari hutan tropis adalah: produktif (ekonomis), perlindungan (ekologis), psikologis dan keagamaan, serta wisata dan pendidikan. Luas hutan tropis berkurang dengan sangat cepat selama tiga dekade belakangan ini dan laju kerusakan hutan tropis adalah tertinggi di dunia.

Faktor-faktor pendorong kerusakan hutan tropis berbeda dari negara ke negara, tetapi pada dasarnya bisa dikelompokkan menjadi tiga: faktor sosial-ekonomi,  meliputi pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kemiskinan; faktor fisik dan lingkungan, meliputi kedekatan dari sungai dan jalan, jarak ke pusat kota, topografi, kesuburan tanah; dan kebijakan pemerintah, meliputi kebijakan di bidang pertanian, kehutanan, dan lain-lain. Perencanaan dan pengelolaan sumber daya hutan yang baik mutlak diperlukan untuk menjaga kelestariannya.

Untuk itu, diperlukan informasi yang memadai yang bisa dipakai oleh pengambil keputusan, termasuk diantaranya informasi spasial. Sistem Informasi Geografis (SIG), Penginderaan Jauh (PJ) dan Global Positioning System (GPS) merupakan tiga teknologi spasial yang sangat berguna. Sebagian besar aplikasi SIG untuk kehutanan belum mencakup hutan tropis, meskipun dalam sepuluh tahun ini aplikasi SIG untuk hutan tropis sudah mulai berkembang.

Hal ini sejalan dengan perubahan tren dalam perencanaan dan pengelolaan hutan tropis. Secara tradisional, kebanyakan tujuan perencanaan adalah untuk keperluan produksi, terutama kayu. Kemudian dengan semakin meningkatnya kesadaran akan nilai lingkungan hidup disamping keuntungan ekonomi yang ditawarkannya, hutan semakin banyak dikelola sebagai suatu sistem ekologis. Beberapa hal yang semakin dipandang penting adalah: (i) kehutanan sosial/kehutanan berbasiskan kemasyarakatan, yang melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan, dan mempromosikan kesetaraan sosial, (ii) reforestasi dan rehabilitasi dari lahan-lahan yang rusak atau terdeforestasi, terutama melalui pengembangan perkebunan tanaman industri, (iii) penunjukkan dan pengelolaan area perlindungan dan suaka margasatwa; dan (iv) penggunaan dan pelestarian hasil hutan bukan kayu.

Perubahan tujuan pengelolaan hutan tersebut diiringi oleh perubahan dalam proses perencanaan. Kecenderungan proses perencanaan adalah perubahan pendekatan dari top down dan centralized menjadi bottom-up dan decentralized. Bersamaan dengan itu masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, LSM dan masyarakat umum mempunyai kesempatan memberikan partisipasi yang lebih tinggi dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Oleh karena itu transparansi dan keterbukaan dalam pengambilan keputusan meningkat. Selain itu koordinasi dan kooperasi inter dan intra organisasi menjadi lebih efektif serta semakin banyak sektor dan disiplin yang terlibat.

Seiring dengan kecenderungan tersebut, penggunaan informasi, termasuk indigenous knowledge, dalam pengambilan keputusan meningkat. Pada khususnya, kita akan mendiskusikan point yang terakhir, yaitu makin meningkatnya penggunaan dan kebutuhan informasi kehutanan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Semakin rumitnya proses pengambilan keputusan dalam berbagai aspek pengelolaan hutan membuat kebutuhan akan informasi semakin esensial.

Informasi bisa dilihat sebagai input dasar dari perumusan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan dan evaluasi. Tidak adanya dan tidak layaknya informasi bisa berakibat fatal pada program dan proyek kehutanan tropis. scanner, plotter, printer, sedangkan perangkat lunak bisa dipilih baik yang komersial maupun yang tersedia dengan bebas. Contoh perangkat lunak yang banyak dipakai adalah ARC/INFO, ArcView, IDRISI, ER Mapper, GRASS, MapInfo.

Format-format data akan dibahas secara khusus pada bab selanjutnya.  Beberapa cara memasukkan data ke dalam SIG adalah melalui keyboard, digitizer, scanner, sistem penginderaan jauh, survei lapangan, GPS. Sumber daya manusia sebagai komponen SIG bukan hanya meliputi staf teknikal, yaitu yang bertugas dalam hal pemasukan data maupun pemrosesan dan penganalisaan data, tetapi juga koordinator yang bertugas untuk mengontrol kualitas dari SIG.

Adapun elemen fungsional SIG meliputi pengambilan data, pemrosesan awal, pengelolaan data, manipulasi dan analisa data, dan pembuatan output akhir. Penggunaan SIG untuk kehutanan tropis di negara berkembang belum lama dimulai, dan cukup bervariasi antar negara, yaitu dalam hal tujuan, aplikasi, skala operasional, kesinambungan, dan pembiayaan. Proses dimulainya penggunaan SIG di negara berkembang pada umumnya adalah dari proyek percontohan, dan bukan sistem yang berjalan secara operasional. Oleh karena itu SIG sebagian besar dikembangkan tanpa sebuah obyektif jangka panjang untuk mengintegrasikannya dengan SIG atau basisdata lain.

SIG sebagian besar bukan dimaksudkan untuk digunakan oleh banyak orang dan biasanya dirancang untuk keperluan khusus. Selain itu SIG lebih banyak dikembangkan pada level regional daripada level nasional dan urban. Dataset kebanyakan terdiri dari data biofisik, sedangkan data sosial-ekonomi jarang tercakup. Karena pendanaan dari pengembangan SIG kebanyakan dari bantuan internasional, proyek SIG cenderung dikelola oleh ahli yang biasanya masa kerjanya pendek, dan bukan oleh staf lokal. Selain kendala yang berkaitan dengan proses dimulainya pengembangan SIG di atas, beberapa faktor lain yaitu:

Informasi (Spasial, dan non-spasial), Kebijakan, rencana, pelaksanaan, Perumusan, Kebijakan, Perencanaan Pelaksanaan, Pengawasan, Evaluasi. Sumber : Apan, 1999.

Memperbaiki kekurangan dalam penggunaan dan pengelolaan informasi seharusnya merupakan prioritas utama pada negara berkembang. Kapasitas untuk mengumpulkan dan memproses data yang relevan seharusnya terus dikembangkan. Karena kebanyakan data yang relevan untuk pengelolaan hutan merujuk kepada penyebaran spasial, SIG merupakan alat yang sangat membantu.

SIG di negara berkembang

Aplikasi dan pengembangan SIG dimulai di negara maju, terutama Amerika Utara. Komponen utama SIG meliputi perangkat keras, perangkat lunak, data dan sumber daya manusia. Perangkat keras meliputi komputer, digitizer, menghambat pemakaian dan pengembangan SIG di negara berkembang adalah kurangnya sumber dana, kurangnya pendidikan di bidang ini, kurangnya komunikasi antara para birokrat dengan teknokrat, rendahnya alur informasi, faktor politis yang berubah dengan cepat, kurangnya keleluasaan untuk memilih dan mengembangkan SIG karena bantuan asing yang biasanya cukup mengikat.Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, pelatihan merupakan langkah penting untuk mengembangkan kapasitas sumber daya manusia. Selain itu komitmen dari lembaga pemerintah untuk pemakaian SIG, terutama dalam hal perencanaan, akan sangat berguna. Juga dengan melibatkan instansi lain seperti industri dan lembaga internasional, kemungkinan keberhasilan pengembangan SIG akan meningkat.

SIG untuk kehutanan tropis

Berbagai kendala yang sudah dibahas di atas berlaku bagi pengembangan dan pemakaian SIG secara umum di negara berkembang, dan juga secara khusus bagi sektor kehutanan. Berikut secara singkat kita akan membahas potensi aplikasi SIG bagi kehutanan tropis. Beberapa aplikasi sudah dilakukan di beberapa tempat di negara tropis, akan tetapi pada dasarnya secara operasional aplikasi SIG masih jauh dari optimal bila dibandingkan kemampuan SIG untuk mendukung perencanaan dan pengelolaan hutan tropis. Sebagaimana diketahui, inventori dan monitoring merupakan dasar dari pengelolalaan hutan yang baik. Kendala utama dalam inventori dan monitoring adalah keterbatasan dalam pengambilan data, karena luasnya area, sulitnya mencapai area, panjangnya waktu yang diperlukan dan keterbatasan sumber daya manusia. SIG, terutama dengan sistem PJ, yang bisa menjangkau area yang luas dengan dukungan frekuensi yang cukup tinggi merupakan sebuah terobosan dalam aspek inventori dan monitoring. Akan tetapi di negara berkembang praktek inventori dan monitoring dengan menggunakan SIG masih sangat jauh dari optimal. Perlindungan hutan dari akibat kegiatan manusia, api, gulma dan penyakit adalah aspek penting dalam kehutanan tropis. Aplikasi SIG dalam aspek ini terutama adalah untuk mempelajari kebakaran hutan. Akan tetapi sebagian besar proyek ini adalah proyek penelitian dan bukan perencanaan dan pengelolaan yang operasional.

Secara komersial, hasil hutan yang paling utama adalah kayu. Penebangan hutan yang mempertimbangkan dampak negatif terhadap lingkungan memerlukan perencanaan yang baik. Pemodelan hutan secara spasial menggunakan SIG sangat membantu dalam perencanaan dan strategi penebangan, akan tetapi aplikasi ini kebanyakan dipakai di negara maju, dan pada umumnya masih dalam tahap penelitian. Rehabilitasi hutan, terutama mengingat besarnya luasan hutan yang rusak, adalah aspek yang sangat memerlukan perhatian sekaligus sangat kompleks dengan tingkat kesuksesan yang rendah.

SIG bisa membantu masalah rehabilitasi hutan dalam tahap penelitian dan pemetaan lokasi, pemilihan species yang cocok, lokasi pembibitan dan infrastruktur lain dan juga dalam tahap monitoring dan evaluasi. Akan tetapi proyek atau penelitian yang berkaitan dengan aplikasi SIG untuk rehabilitasi hutan sangat sedikit, meskipun di negara maju sekalipun. Seperti telah disinggung di atas, dalam beberapa dekade ini ada kecenderungan bergesernya fokus kehutanan dari industri ke arah perlindungan lingkungan dan kegunaannya untuk masyarakat lokal. Informasi sebenarnya merupakan syarat untuk menentukan arah dari pelaksanaan pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Informasi sosial-ekonomi terutama merupakan informasi yang sangat penting. Penggunaan SIG dalam aspek ini, baik di negara berkembang maupun di negara maju, masih sangat minimal.

Dalam aspek konservasi hutan dan keragaman hayati, menentukan area prioritas dan hotspot dari keragaman hayati adalah hal paling mendasar. Aplikasi SIG untuk ini, baik di negara maju maupun di negara berkembang, sudah cukup banyak Hutan tropis mempunyai peranan yang signifikan dalam perubahan iklim global. SIG merupakan alat yang sangat berguna dalam penelitian perubahan iklim, yaitu dalam hal pengorganisasian data, dalam bentuk basisdata global, dan kemampuan analisa spasial untuk pemodelan.

Aplikasi SIG untuk penelitian perubahan iklim berkembang pesat, tetapi untuk negara berkembang masih sangat terbatas. Basisdata spasial akan semakin penting dalam hal mendukung pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan. Beberapa basisdata global yang mencakup area hutan tropis sudah tersedia, yaitu meliputi basisdata topografi, hutan tropis basah, iklim global, perubahan iklim global, citra satelit, konservasi dan tanah.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.cifor.cgiar.org/publications/pdf_files/Books/SIGeografis/SIG-part-1.pdf

Leave a comment »

Penyaradan Dengan Menggunakan System Kabel

Kegiatan Penyaradan dengan Menggunakan System Kabel

Amrullah

Fakultas Kehutanan

Universitas Hasanuddin

Makassar

BAB I

Landasan Teori

Pemanenan hasil hutan adalah serangkgaian kegiatan kehutanan yang mengubah pohon atau biomassa lainnya, sehingga bermanfaat bagi keghidupan ekonomis dan kebudayaan masyarakat (Suparto, 1979).

Berdasarkan pengalaman Tropical Forest Foundation dalam melaksanakan uji coba RIL di hutan Dipterocarp Indonesia selama ini secara jelas bahwa . . . Pembukaan jalan sarad harus dilakukan sebelum penebangan. Mengapa?

• agar terdapat jalan masuk yang lebih mudah bagi penebang.

• agar terdapat acuan yang mudah dilihat oleh penebang. Hal ini akan membantu penebang untuk menentukan arah rebah sehingga penarikan log lebih efisien.

• agar penebang lebih mudah menentukan pohon mana yang tidak ditebang karena mengetahui jaringan penarikan dan dengan demikian tahu pohon-pohon mana saja yang tidak dapat dijangkau.

• Pohon dengan ukuran besar dan tingkat kepadatan tinggi di hutan Dipterocarp menyebabkan pembuatan lokasi jalan sarad sulit ditemukan jika pohon ditebang sebelum dilakukan pembukaan jalan sarad.

Dalam proses pemanenan kayu setelah kegiatan penebangan untuk merebahkan pohon  kegiatan selanjutnya adalah penyaradan ke tempat penimbunan untuk diangkut ke tempat pengumpulan kayu  (TPK). Kayu yang disarad dapat berupa seluruh bagian pohon (Full  tree), log yang telah disortimen menjadi bagian-bagian yang kecil serta seluruh panjang kayu. System penyaradan kayu dapat dilakukan dengan penyaradan menggunakan Tractor dimana kayu disarad dengan terlebih dahulu mesin (tractor) mendekati log yang direbahkan kemudian disarad menuju tempat penimbunan. Sedangkan system penyaradan yang lain yaitu dengan menggunakan kabel dimana kabel menggunakan mesin yang stasioner sehingga log yang disarad terkumpul kesatu tempat dekat dengan mesin penyarad, dan penyaradannya dilakukan oleh kabel.

Penyaradan dengan system kabel mampu melaksanakan tugas penyaradan yang tak mampu dilakukan oleh skidding. Pada umumnya kelerengan tidak menjadi masalah dalam pelaksanaan system kabel. Sedangkan dalam penyaradan dengan traktor kelerengan 50% tak mampu dilewati oleh traktor . Jadi penyaradan dengan dengan system kabel dapat dilaksanakan baik pada daerah yang datar maupun pada daerah yang memiliki topografi yang curam bahkan berjurang, karena kayu yang disarad dalam system kabel tidak seluruhnya bersentuhan langsung dengan tanah.

Disamping itu rute jalan sarad dalam system kabel tidak perlu direncanakan dengan sangat teliti, karena dapat melewati disembarang tempat dan kondisi tidak seperti penyaradan dengan traktor harus dipilih yang tidak banyak tanjakan, tidak berbelok-belok, tidak banyak lumpur dan lain sebagainya.

Wire skidding adalah penyaradan kayu menggunakan sistem kabel yang paling sederhana. Dengan cara ini diperlukan kawat baja sebagai lintasan pembawa kayu (carriage) dan pohon penyanga (spar tree). Carriage dapat berupa kayu bercabang, sling atau logam.

Proses penyaradan dengan sistem ini adalah sebagai berikut : kayu diikatkan pada carriage, selanjutnya carriage diluncurkan melalui kawat baja dari atas lereng menuju lembah. Pada pelaksanaan di lapangan, umumnya digunakan carriage. Kedua ujung kayu diikatkan pada masing-masing carriage, sehingga posisi kayu sejajar dengan kawat lintasan dan selama operasi kayu tidak begitu berayun-ayun. Kayu yang disarad dengan wire skidding panjangnya berkisar antara 1 – 3 m, demikian juga diameternya.

Tingkat kerusakan kayu akibat penyaradan dengan cara ini cukup besar, karena sistem ini tidak dilengkapi dengan rem. Untuk mengatasi hal ini diperlukan penahan di lereng bawah (tempat pengumpulan). Kekuatan benturan kayu terhadap batang penahan tergantung pada :

– Perbedaan tinggi antara panggung atas dan panggung bawah.

– Ukuran kayu yang disarad.

– Panjang bentangan.

Pada perkembangan selanjutnya cara penyaradan ini telah dilengkapi dengan rem.

Pada daerah rawa dimana tanahnya selalu digenangi oleh air dan kemudian menyebabkan tanah yang sangat becek dan berlumpur, maka penyaradan dengan system kabel merupakan salah satu alternative yang menjanjikan. Untuk system kabel dapat dilakukan pada daerah yang selalu becek, berlumpur sehingga traktor sulit untuk melewati daerah ini misalnya untuk daerah Kalimantan Barat dan lain-lainnya

Pada situasi dan jarak yang sama waktu keseluruhan yang dibutuhkan untuk menyarad dengan dengan traktor dan kabel sangat jauh berbeda. Dengan menngunakan traktor waktu sekali putaran membutuhkan antara 6 sampai 60 menit sedangkan dengan mengggunakan kabel waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 5 menit. Dengan demikian sulit untuk membandingkan keduanya karena masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri juga mengingat permodalan yang sangat besar dan biaya operasionalnya.Besarnya modal untuk menggunakan system kabel menurut Steve Conway (1982) yakni untuk kombinasi yarder dan spar termasuk kabel dan peralatannya seharga $ 800.000. Biaya investasi yang sangat tinggi mengakibatkan beaya tetap yang tinggi pula, baik untuk biaya mesin-mesinnya maupun untuk perpindahan tempat. Juga harus dikeluarkan biaya untuk pembuatan landing untuk pembuatan jalan cabang menuju landing dan lain sebagainya.

Penyaradan dengan kabel kebanyakan dipakai diwilayah Amerika Barat dan disekitar wilayah khatulistiwa (Philiphina) Penyaradan dengan ini (kabel) pertama kalinya dilakukan di California.  Sistem penyaradan dengan kabel semakin kurang dipakai karena mempunyai banyak pula kebaikan dan keburukan yang sangat besar :

Kebaikan sistem kabel  yaitu :

  1. Pemusatan gaya yang besar. Mesin-mesin  yang yang digunakan ada besar dan yang kecil dengan gaya yang berfariasi antara 10 GK sampai 100 GK untuk dapat menyarad kayu yang besar dengan kecepatan hingga 36 KM/jam
  2. Tidak bergantung pada keadaann topografi dari lapangan
  3. Tidak tergantung pada lereng.

Kekurangan system kabel yaitu :

  1. Jarak penyaradan yang sangat terbatas
  2. Kayu yang disarad melalui kabel sarad dalam arah yang lurus ke motor yang ditempatkan dekat motor sehingga kayu bertumpuk menyebabkan kayu dalam garis tersebut kebanyakan rusak
  3. Kerusakan yang disebabkan   pada pohon yang tak ditebang, pada kayunya pun sering terjadi kerusakan
  4. Berbahaya bagi para pekerja
  5. Upah dan biaya kerja yang tinggi.

Pada dasarnya terdapat dua macam penyaradan dengan menggunakan katrol yaitu dengan menyarad diatas tanah (ground skidding) dan penyaradan dengan memakai satu atau lebih tiang yang tinggi sehingga kayu yang disarad sebagian atau seluruhnya terangkat dari tanah (High lead logging).

Pada ground skidding kayu-kayu yang akan disarad diikat pada kabel sarad (main line) yang diulurkan dangan tang atau dengan kabel pengulur (haul backline) dan ditarik kemotor dimana pada penyaradan dengan system ini tidak menggunakan tiang yang digunakan sebagai pengangkut batang pohon dari atas tanah tapi dengan menggunakan alat yang telah terdapat pada mesin penyarad yang dihubungkan dengan kabel yang mampu menyarad antara 200-300 ft jika menggunakan mesin yang kecil   penyaradan dengan cara ini sangat tidak ekonomis  untuk  menghandel pohon-pohon dengan volume yang besar karena mesin ini sangat lambat pergerakan kayu yang disarat ketempat pengumpulan kayu, tapi dapat mengangkut  muatan area yang kecil dimana alat penyaradan yang lain tidak menguntungkan untuk hal itu mengangkut ditempat itu (Wackerman. 1949)  Kekurangannya yang menyebabkan kerusakan pada pohon yang tak ditebang  serta kerugian waktu dan energi karena berbagai penghalang yang merintangi penyaradan disebabkan bagian muka kayu masuk kedalam tanah.

Sedangkan pada high lead logging, saat akan dilakukan penyaradan dengan kabel maka terlebih dahulu ditentukan sebuah tiang yang  dipilih dari pohon-pohon besar kemudian ditebang bagian bagian pucuk pohon tersebut (spar tree), pada kegiatan menentukan pohon tiang  memenjat pohon serta memotong bagiaan , namun terkadang tidak terdapat pohon yang baik untuk pohon tiang di tempat yang baik maka biasanya dipakai tiang  pohon digantikan dengan tiang yang terbuat dari baja dan dapat dipindahkan oleh mesin-mesin yang bergerak oleh peluncur-peluncur.

High lead merupakan cara yang banyak dipakai dalam penyaradan dengan kabel terutama pada wilayah yang curam, becek dimana traktor tak dapat melewati wilayah tersebut. Caranya sangat sederhana dan tidak tergantung pada keadaan serta biaya yang agak rendah. (Juta 1954).

BAB II

KONSTRUKSI SISTEM KABEL

Kabel sangat penting penggunaannya dalam operasi pembalakan modern. Kabel sesungguhnya terdiri dari beberapa kawat yang dipilin dalam satu lapis pilinan atau lebih serta mengelilingi inti kabel. Kabel pertama kali digunakan pada usaha pertambangan di Jerman pada tahun 1834 yang pada penerapannya dilapangan tentang tegangan tarik yang dialami kabel saat ditarik, maka untuk mengatasinya dibuat kabel dengan banyak lapisan pilinan tetapi daya tahan dan fleksibilitasnya tidak memuaskan sehingga ditemukan ide oleh Englishman Lang dengan menggunakan kabel yang uniform  hasil buatannya sendiri dan kemudian dinamakan Lang lay.

  1. Jumlah kawat dalam kabel dan strand yang mengelilingi inti

Sebuah kabel biasanya memiliki enam strand dengan setiap strand dapat memiliki 7 kawat (satu kawat dengan enam yang mengelilingi kawat). Fleksibilitas kabel tidak hanya bergantung pada kualitas dari baja namun juga dari jumlah kawat yang digunakan dalam kabel. Kabel dengan jumlah kawat yang lebih banyak memungkinkan kabel itu lebih fleksibel dibanding kabel dengan diameter yang sama tetapi sedikit memiliki kawat yang mengelilingi inti kabel.

Bagian kabel yang paling dalam dan dikelilingi oleh strand disebut inti kabel sedangkan strand adalah kumpulan kawat yang dipilin membentuk satu strand, dimana  dalam satu strand terdapat beberapa kawat yang dipilin. Pilinan strand dalam kabel bisa lebih dari satu lapis tergantung pada tingkat fleksibilitas yang diinginkan namun perlu diketahui bahwa semakin banyak lapisan yang digunakan sebuah kabel maka kabel tersebut akan semakin kaku saat digunakan sehingga membatasi pada pemakian tertentu saja.

  1. Arah puntiran kabel

Arah puntiran kabel dikenal dengan tiga metode :

  1. Puntiran dangan arah yang sama

Dimana strand dan kawat terpuntir pada arah yang sama

  1. Left lang lay (Uniform lay to the left) Adalah puntiran kabel yang puntiran strand kawatnya berarah ke kiri
  2. Right lang lay (uniform lay to the right) puntiran kabel yang puntiran strand kawatnya berarah ke kanan.
  3. Puntiran dengan berlawanan

Dimana strand dan kawat terpuntir pada arah yang berlawanan

  1. Left regular lay (cross lay to the left) strand kabel berputar ke kiri sedangkan kawat berputar ke arah kanan
  2. Right regular lay (cross lay to the right) strand kabel berputar ke kekanan sedangkan kawat berputar ke arah kekiri.
  3. c. Alternate lay

Dimana kabel dan strand berpilin kekanan sedangkan kawat berpilin kekiri dan kekanan.

Perbedaan antara uniform lay dan cross lay adalah untuk kabel uniform fleksibilitasnya tinggi dan penggunaannya lama tetapi cenderung membentuk loop sehinnga membutuhkan tenaga kerja yang terampil sedangkan cross lay tingkat fleksibilitasnya rendah dengan penggunaan yang lama tetapi tifdak mudah membentuk loop sehingga lebih umum digunakan dibanding uniform lay.

  1. Bahan untuk inti (Core)

Bahan yang digunakan sebagai inti pada kabel memiliki dua keuntungan yaitu sebagai penahan strand yang diputar disekelilingnya dan sebagai tempat bahan pelumas untuk mempertahankan fleksibilitas kabel jika sering digunakan dengan waktu yang lama.  Beberapa bahan inti kabel yaitu fiber core biasanya dibuat dari serat manila  serat sisa kapas dan lain-lain, wire rope croses adalah inti kabel dengan menggunakan logam, asbes cores, plastic cores, dan paper cores.

BAB III

Sistem Operasi penyaradan dengan kabel

Dalam system operasi penyaradan dengan menggunakan kabel terdapat 5 sistem operasi yaitu :

  1. 1. High lead yarding

Cara ini merupakan cara yang paling banyak dipakai, terutama pada daerah yang curam dan becek dimana traktor yang dharapkan mampu menyarad tidak mampu melewati daerah tersebut. Cara ini sangat sederhana dan tidak tergantung pada keadaan yang tidak menguntungkan serta biayanya yang tidak terlalu tingi.

Untuk penyaradan dengan menggunakan kabel, mesin penyarad ditempatkan dekat denangan pohon yang digunakan sebagai tiang (spar tree) dan mempunnyai tiga tromol yang terdapat diujung pohon kemudian spar tree ditunjang dan ditahan oleh banyak kabel yang dipasang pada bagian atas pohon atau tiang. Serta beberapa kabel lain yang dijadikan sebagai kabel pengikat dan pengulur untuk menuju dan kembali dari pangkal spar tree. Kapasitas penggunaan cara ini tidak tetap tetapi angka rata-rata adalah ± 200 m3 setiap hari.

  1. 2. Slack Line System

Merupakan istilah dalam yarding dimana kabel digantungkan melintang diantara dua atau lebih tiang, tiang penggantung dapat berupa pohon secara keseluruhan dan tiang baja. Dalam system skyline dimasukkan carriage yang membawa kayu yang disarad secara lateral yang selalu tergantung. Sebagian besar perlengkapan skyline sama dengan highlead, mungkin yang berbeda adalah kedudukan mainline dan haul backline.Karena skyline tergantung diantara dua tiang atau lebih tiang maka ada istilah yang disebut span, yang merupakan jarak antara tiang pendukung yang dipakai untuk menggantung dengan spar tree.

Cara ini dilakukan dengan memasangkan kabel pada tiang pertama ke tiang pembantu dimana cara ini menggunakan dua tiang yang dijadikan sebagai spar tree. Slack Line System terbagi dalam dua cara yaitu dengan menggunakan kabel yang  tiang utama dan tiang pembantu menggunakan kabel yang kencang (Slack line system) serta tiang utama dan tiang penunjang yang menggunakan kebel yang tidak kencang (Tigh Line system).

Slack line system kabel pada kedua ujungnya dipasang keras pada kedua tiang sedangkan kabel yang  tidak kencang pada kedua ujungnya (Tigh Line system) hanya pada satu ujung yang dipasangkan keras pada salah satu tiangnya ujung yang lain melalui kabel yang dipasang pada teromol  dimesin sehingga kabel ini dapat ditarik lebih kencang atau diulur lebih panjang. Rata-rata jarak penyaradan dengan sistem ini adalah 400-600 m tetapi ada juga yang dengan melakukan pengukuran terlebih dahulu memiliki jarak yang cukup jauh yaitu 1100 m.

  1. 3. North Bend System

Cara ini termasuk cara yang memakai kabel yang kencang pada kedua ujungnya (tigh line system) dan mempunyai dan mempunyai kabel  peluncur  yang berfungsi untuk mengalirkan katrol untuk menyarad dan mengambil kayu sky line dipasang kencang pada kedua ujung tiang (spar tree).

Cara ini sangat cocok dipakai untuk menyarad kayu-kayu yang mendaki lereng gunung dengan jarak tempuh penyaradannya hampir 500 m. keuntungannya adalah memudahkan kayu yang disarad untuk diawasi.

  1. 4. Modified North Bend System

Cara ini merupakan modifikasi dari North Bend System dimana cara Ini dipakai untuk penyaradan yang dilakukan menuruni lereng gunung. Perbedaan cara ini dengan cara North Bend System terletak pada ujung kabel penyaradan pertama tidak dipasang pada carriage tetapi melalui sebuah cakram yang kembali ke katrol, jika kabel sarad digulung maka kayu yang diikat pada katrol yang bebas disertai kait dan chokers maka kayu akan terangkat dan disarad.

  1. 5. Tyler System

Sistem ini berbeda menurut arah penyaradannya untuk menyarad mendaki lereng  maka diperlukan mesin yang istimewa dengan dua teromol utama, cara ini tidak banyak bergantung pada topografi tempat dimana penyaradan ini digunakan hanya saja cara ini  memiliki beberapa kekurangan dimana pemasukan modal yang besar dan memakan waktu yang lama   untuk memasang kabel dan katrol sehingga biayanya menjadi tinggi, tekanan yang besar pada sky line serta keausan yang besar pada main line pertama. Pemakaian cara ini sangat efektif  jika peluang kayu yang disarad jatuh ketanah atau jurang sangat besar karena tingginya gaya grafitasi kayu yang dilalui saat penyaradan dilakukan dengan mendaki.

Untuk penyaradan dengan menggunakan system kabel pada hutan pendidikan Bengo-bengo Unhas yang jarak antara lokasi penebangan dengan jalan angkutan tidak memakan jarak yang jauh sehingga memudahkan untuk memindahkan log ke truk pengangkut yang kemudian dibawa ke perusahaan.

Cara yang yang cocok digunakan pada hutan pendidikan bengo-bengo adalah North Bend System dimana cara ini  mampu mengangkut kayu pada daerah-daerah yang topografinya curam serta sepenuhnya kayu terangkat di atas tanah saat disarad sehingga tidak mengganggu tumbuhan lain. Cara ini juga dapat menyarad dengan jarak tempuh hingga 500 meter  dimana jika kemungkinan letak lokasi penebangan memiliki lengkungan 5 % yang jika dibulatkan adalah  30 meter. Selain itu juga North Bend System juga mudah dalam proses pengawasannya. Namun dengan kentungan yang dimiliki oleh cara ini tidak menutup kerugian yang dimiliki saat menggunakan  penyaradan dengan kabel secara umum yaitu membutuhkan biaya operasional yang tinggi, membutuhkan tenaga yang ahli, dan berpengalaman guna menghindari kesalahan-kesalahan saat penyaradan berlangsung, tingkat keselamatan pekerja juga rendah sehingga diperlukan perhitungan dan pertimbangan yang matang jika menggunakan system kabel pada kegiatan penyaradan selain itu juga system ini mempunyai standar- standar tertentu.

BAB IV

Penutup

IV. Kesimpulan

Dari penjelasan tentang penggunaan system kabel dalam proses penyaradan diatas dapat disimpulkan bahwa :

  • Sistem kabel sangat baik digunakan dalam proses penyaradan. Dan sangat cocok pada daerah yang curam.
  • Dalam Sistem kabel pengadaan bahan-bahannya sangat sulit dan membutuhkan biaya yang mahal.
  • Terdapat beberapa system kabel yaitu ground skidding kayu masih menyentuh tanah dan High lead lead logging kayu terangkat dari atas tanah.
  • Untuk proses penyaradan pada hutan pendidikan bengo-bengo. cara penyaradan yang cocok adalah North Bend System dimana cara ini  mampu mengangkut kayu pada daerah-daerah yang topografinya curam serta sepenuhnya kayu terangkat di atas tanah saat disarad sehingga tidak mengganggu tumbuhan lain dibawahnya.

DAFTAR PUSTAKA

A.E, Wackerman. 1949. Harvesting Timber Crops. London

Anonim. 2008. Eksploitasi hasil hutan. Fakultas Kehutanan Unhas. Makassar

Haryanto. 1995. Pemanenan Hasil Hutan /  Buku 3 penyaradan. Yayasan Pembinaan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Juta. E.H.P. 1954. Pemungutan hasil Hutan. Timun Mas N.V. Bogor

http.file:///D|/E-Learning/Pemanenan%20hasil%20Hutan/Textbook.html 5/8/2007 3:03:58 PM.

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »