Penyaradan Dengan Menggunakan System Kabel

Kegiatan Penyaradan dengan Menggunakan System Kabel

Amrullah

Fakultas Kehutanan

Universitas Hasanuddin

Makassar

BAB I

Landasan Teori

Pemanenan hasil hutan adalah serangkgaian kegiatan kehutanan yang mengubah pohon atau biomassa lainnya, sehingga bermanfaat bagi keghidupan ekonomis dan kebudayaan masyarakat (Suparto, 1979).

Berdasarkan pengalaman Tropical Forest Foundation dalam melaksanakan uji coba RIL di hutan Dipterocarp Indonesia selama ini secara jelas bahwa . . . Pembukaan jalan sarad harus dilakukan sebelum penebangan. Mengapa?

• agar terdapat jalan masuk yang lebih mudah bagi penebang.

• agar terdapat acuan yang mudah dilihat oleh penebang. Hal ini akan membantu penebang untuk menentukan arah rebah sehingga penarikan log lebih efisien.

• agar penebang lebih mudah menentukan pohon mana yang tidak ditebang karena mengetahui jaringan penarikan dan dengan demikian tahu pohon-pohon mana saja yang tidak dapat dijangkau.

• Pohon dengan ukuran besar dan tingkat kepadatan tinggi di hutan Dipterocarp menyebabkan pembuatan lokasi jalan sarad sulit ditemukan jika pohon ditebang sebelum dilakukan pembukaan jalan sarad.

Dalam proses pemanenan kayu setelah kegiatan penebangan untuk merebahkan pohon  kegiatan selanjutnya adalah penyaradan ke tempat penimbunan untuk diangkut ke tempat pengumpulan kayu  (TPK). Kayu yang disarad dapat berupa seluruh bagian pohon (Full  tree), log yang telah disortimen menjadi bagian-bagian yang kecil serta seluruh panjang kayu. System penyaradan kayu dapat dilakukan dengan penyaradan menggunakan Tractor dimana kayu disarad dengan terlebih dahulu mesin (tractor) mendekati log yang direbahkan kemudian disarad menuju tempat penimbunan. Sedangkan system penyaradan yang lain yaitu dengan menggunakan kabel dimana kabel menggunakan mesin yang stasioner sehingga log yang disarad terkumpul kesatu tempat dekat dengan mesin penyarad, dan penyaradannya dilakukan oleh kabel.

Penyaradan dengan system kabel mampu melaksanakan tugas penyaradan yang tak mampu dilakukan oleh skidding. Pada umumnya kelerengan tidak menjadi masalah dalam pelaksanaan system kabel. Sedangkan dalam penyaradan dengan traktor kelerengan 50% tak mampu dilewati oleh traktor . Jadi penyaradan dengan dengan system kabel dapat dilaksanakan baik pada daerah yang datar maupun pada daerah yang memiliki topografi yang curam bahkan berjurang, karena kayu yang disarad dalam system kabel tidak seluruhnya bersentuhan langsung dengan tanah.

Disamping itu rute jalan sarad dalam system kabel tidak perlu direncanakan dengan sangat teliti, karena dapat melewati disembarang tempat dan kondisi tidak seperti penyaradan dengan traktor harus dipilih yang tidak banyak tanjakan, tidak berbelok-belok, tidak banyak lumpur dan lain sebagainya.

Wire skidding adalah penyaradan kayu menggunakan sistem kabel yang paling sederhana. Dengan cara ini diperlukan kawat baja sebagai lintasan pembawa kayu (carriage) dan pohon penyanga (spar tree). Carriage dapat berupa kayu bercabang, sling atau logam.

Proses penyaradan dengan sistem ini adalah sebagai berikut : kayu diikatkan pada carriage, selanjutnya carriage diluncurkan melalui kawat baja dari atas lereng menuju lembah. Pada pelaksanaan di lapangan, umumnya digunakan carriage. Kedua ujung kayu diikatkan pada masing-masing carriage, sehingga posisi kayu sejajar dengan kawat lintasan dan selama operasi kayu tidak begitu berayun-ayun. Kayu yang disarad dengan wire skidding panjangnya berkisar antara 1 – 3 m, demikian juga diameternya.

Tingkat kerusakan kayu akibat penyaradan dengan cara ini cukup besar, karena sistem ini tidak dilengkapi dengan rem. Untuk mengatasi hal ini diperlukan penahan di lereng bawah (tempat pengumpulan). Kekuatan benturan kayu terhadap batang penahan tergantung pada :

– Perbedaan tinggi antara panggung atas dan panggung bawah.

– Ukuran kayu yang disarad.

– Panjang bentangan.

Pada perkembangan selanjutnya cara penyaradan ini telah dilengkapi dengan rem.

Pada daerah rawa dimana tanahnya selalu digenangi oleh air dan kemudian menyebabkan tanah yang sangat becek dan berlumpur, maka penyaradan dengan system kabel merupakan salah satu alternative yang menjanjikan. Untuk system kabel dapat dilakukan pada daerah yang selalu becek, berlumpur sehingga traktor sulit untuk melewati daerah ini misalnya untuk daerah Kalimantan Barat dan lain-lainnya

Pada situasi dan jarak yang sama waktu keseluruhan yang dibutuhkan untuk menyarad dengan dengan traktor dan kabel sangat jauh berbeda. Dengan menngunakan traktor waktu sekali putaran membutuhkan antara 6 sampai 60 menit sedangkan dengan mengggunakan kabel waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 5 menit. Dengan demikian sulit untuk membandingkan keduanya karena masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri juga mengingat permodalan yang sangat besar dan biaya operasionalnya.Besarnya modal untuk menggunakan system kabel menurut Steve Conway (1982) yakni untuk kombinasi yarder dan spar termasuk kabel dan peralatannya seharga $ 800.000. Biaya investasi yang sangat tinggi mengakibatkan beaya tetap yang tinggi pula, baik untuk biaya mesin-mesinnya maupun untuk perpindahan tempat. Juga harus dikeluarkan biaya untuk pembuatan landing untuk pembuatan jalan cabang menuju landing dan lain sebagainya.

Penyaradan dengan kabel kebanyakan dipakai diwilayah Amerika Barat dan disekitar wilayah khatulistiwa (Philiphina) Penyaradan dengan ini (kabel) pertama kalinya dilakukan di California.  Sistem penyaradan dengan kabel semakin kurang dipakai karena mempunyai banyak pula kebaikan dan keburukan yang sangat besar :

Kebaikan sistem kabel  yaitu :

  1. Pemusatan gaya yang besar. Mesin-mesin  yang yang digunakan ada besar dan yang kecil dengan gaya yang berfariasi antara 10 GK sampai 100 GK untuk dapat menyarad kayu yang besar dengan kecepatan hingga 36 KM/jam
  2. Tidak bergantung pada keadaann topografi dari lapangan
  3. Tidak tergantung pada lereng.

Kekurangan system kabel yaitu :

  1. Jarak penyaradan yang sangat terbatas
  2. Kayu yang disarad melalui kabel sarad dalam arah yang lurus ke motor yang ditempatkan dekat motor sehingga kayu bertumpuk menyebabkan kayu dalam garis tersebut kebanyakan rusak
  3. Kerusakan yang disebabkan   pada pohon yang tak ditebang, pada kayunya pun sering terjadi kerusakan
  4. Berbahaya bagi para pekerja
  5. Upah dan biaya kerja yang tinggi.

Pada dasarnya terdapat dua macam penyaradan dengan menggunakan katrol yaitu dengan menyarad diatas tanah (ground skidding) dan penyaradan dengan memakai satu atau lebih tiang yang tinggi sehingga kayu yang disarad sebagian atau seluruhnya terangkat dari tanah (High lead logging).

Pada ground skidding kayu-kayu yang akan disarad diikat pada kabel sarad (main line) yang diulurkan dangan tang atau dengan kabel pengulur (haul backline) dan ditarik kemotor dimana pada penyaradan dengan system ini tidak menggunakan tiang yang digunakan sebagai pengangkut batang pohon dari atas tanah tapi dengan menggunakan alat yang telah terdapat pada mesin penyarad yang dihubungkan dengan kabel yang mampu menyarad antara 200-300 ft jika menggunakan mesin yang kecil   penyaradan dengan cara ini sangat tidak ekonomis  untuk  menghandel pohon-pohon dengan volume yang besar karena mesin ini sangat lambat pergerakan kayu yang disarat ketempat pengumpulan kayu, tapi dapat mengangkut  muatan area yang kecil dimana alat penyaradan yang lain tidak menguntungkan untuk hal itu mengangkut ditempat itu (Wackerman. 1949)  Kekurangannya yang menyebabkan kerusakan pada pohon yang tak ditebang  serta kerugian waktu dan energi karena berbagai penghalang yang merintangi penyaradan disebabkan bagian muka kayu masuk kedalam tanah.

Sedangkan pada high lead logging, saat akan dilakukan penyaradan dengan kabel maka terlebih dahulu ditentukan sebuah tiang yang  dipilih dari pohon-pohon besar kemudian ditebang bagian bagian pucuk pohon tersebut (spar tree), pada kegiatan menentukan pohon tiang  memenjat pohon serta memotong bagiaan , namun terkadang tidak terdapat pohon yang baik untuk pohon tiang di tempat yang baik maka biasanya dipakai tiang  pohon digantikan dengan tiang yang terbuat dari baja dan dapat dipindahkan oleh mesin-mesin yang bergerak oleh peluncur-peluncur.

High lead merupakan cara yang banyak dipakai dalam penyaradan dengan kabel terutama pada wilayah yang curam, becek dimana traktor tak dapat melewati wilayah tersebut. Caranya sangat sederhana dan tidak tergantung pada keadaan serta biaya yang agak rendah. (Juta 1954).

BAB II

KONSTRUKSI SISTEM KABEL

Kabel sangat penting penggunaannya dalam operasi pembalakan modern. Kabel sesungguhnya terdiri dari beberapa kawat yang dipilin dalam satu lapis pilinan atau lebih serta mengelilingi inti kabel. Kabel pertama kali digunakan pada usaha pertambangan di Jerman pada tahun 1834 yang pada penerapannya dilapangan tentang tegangan tarik yang dialami kabel saat ditarik, maka untuk mengatasinya dibuat kabel dengan banyak lapisan pilinan tetapi daya tahan dan fleksibilitasnya tidak memuaskan sehingga ditemukan ide oleh Englishman Lang dengan menggunakan kabel yang uniform  hasil buatannya sendiri dan kemudian dinamakan Lang lay.

  1. Jumlah kawat dalam kabel dan strand yang mengelilingi inti

Sebuah kabel biasanya memiliki enam strand dengan setiap strand dapat memiliki 7 kawat (satu kawat dengan enam yang mengelilingi kawat). Fleksibilitas kabel tidak hanya bergantung pada kualitas dari baja namun juga dari jumlah kawat yang digunakan dalam kabel. Kabel dengan jumlah kawat yang lebih banyak memungkinkan kabel itu lebih fleksibel dibanding kabel dengan diameter yang sama tetapi sedikit memiliki kawat yang mengelilingi inti kabel.

Bagian kabel yang paling dalam dan dikelilingi oleh strand disebut inti kabel sedangkan strand adalah kumpulan kawat yang dipilin membentuk satu strand, dimana  dalam satu strand terdapat beberapa kawat yang dipilin. Pilinan strand dalam kabel bisa lebih dari satu lapis tergantung pada tingkat fleksibilitas yang diinginkan namun perlu diketahui bahwa semakin banyak lapisan yang digunakan sebuah kabel maka kabel tersebut akan semakin kaku saat digunakan sehingga membatasi pada pemakian tertentu saja.

  1. Arah puntiran kabel

Arah puntiran kabel dikenal dengan tiga metode :

  1. Puntiran dangan arah yang sama

Dimana strand dan kawat terpuntir pada arah yang sama

  1. Left lang lay (Uniform lay to the left) Adalah puntiran kabel yang puntiran strand kawatnya berarah ke kiri
  2. Right lang lay (uniform lay to the right) puntiran kabel yang puntiran strand kawatnya berarah ke kanan.
  3. Puntiran dengan berlawanan

Dimana strand dan kawat terpuntir pada arah yang berlawanan

  1. Left regular lay (cross lay to the left) strand kabel berputar ke kiri sedangkan kawat berputar ke arah kanan
  2. Right regular lay (cross lay to the right) strand kabel berputar ke kekanan sedangkan kawat berputar ke arah kekiri.
  3. c. Alternate lay

Dimana kabel dan strand berpilin kekanan sedangkan kawat berpilin kekiri dan kekanan.

Perbedaan antara uniform lay dan cross lay adalah untuk kabel uniform fleksibilitasnya tinggi dan penggunaannya lama tetapi cenderung membentuk loop sehinnga membutuhkan tenaga kerja yang terampil sedangkan cross lay tingkat fleksibilitasnya rendah dengan penggunaan yang lama tetapi tifdak mudah membentuk loop sehingga lebih umum digunakan dibanding uniform lay.

  1. Bahan untuk inti (Core)

Bahan yang digunakan sebagai inti pada kabel memiliki dua keuntungan yaitu sebagai penahan strand yang diputar disekelilingnya dan sebagai tempat bahan pelumas untuk mempertahankan fleksibilitas kabel jika sering digunakan dengan waktu yang lama.  Beberapa bahan inti kabel yaitu fiber core biasanya dibuat dari serat manila  serat sisa kapas dan lain-lain, wire rope croses adalah inti kabel dengan menggunakan logam, asbes cores, plastic cores, dan paper cores.

BAB III

Sistem Operasi penyaradan dengan kabel

Dalam system operasi penyaradan dengan menggunakan kabel terdapat 5 sistem operasi yaitu :

  1. 1. High lead yarding

Cara ini merupakan cara yang paling banyak dipakai, terutama pada daerah yang curam dan becek dimana traktor yang dharapkan mampu menyarad tidak mampu melewati daerah tersebut. Cara ini sangat sederhana dan tidak tergantung pada keadaan yang tidak menguntungkan serta biayanya yang tidak terlalu tingi.

Untuk penyaradan dengan menggunakan kabel, mesin penyarad ditempatkan dekat denangan pohon yang digunakan sebagai tiang (spar tree) dan mempunnyai tiga tromol yang terdapat diujung pohon kemudian spar tree ditunjang dan ditahan oleh banyak kabel yang dipasang pada bagian atas pohon atau tiang. Serta beberapa kabel lain yang dijadikan sebagai kabel pengikat dan pengulur untuk menuju dan kembali dari pangkal spar tree. Kapasitas penggunaan cara ini tidak tetap tetapi angka rata-rata adalah ± 200 m3 setiap hari.

  1. 2. Slack Line System

Merupakan istilah dalam yarding dimana kabel digantungkan melintang diantara dua atau lebih tiang, tiang penggantung dapat berupa pohon secara keseluruhan dan tiang baja. Dalam system skyline dimasukkan carriage yang membawa kayu yang disarad secara lateral yang selalu tergantung. Sebagian besar perlengkapan skyline sama dengan highlead, mungkin yang berbeda adalah kedudukan mainline dan haul backline.Karena skyline tergantung diantara dua tiang atau lebih tiang maka ada istilah yang disebut span, yang merupakan jarak antara tiang pendukung yang dipakai untuk menggantung dengan spar tree.

Cara ini dilakukan dengan memasangkan kabel pada tiang pertama ke tiang pembantu dimana cara ini menggunakan dua tiang yang dijadikan sebagai spar tree. Slack Line System terbagi dalam dua cara yaitu dengan menggunakan kabel yang  tiang utama dan tiang pembantu menggunakan kabel yang kencang (Slack line system) serta tiang utama dan tiang penunjang yang menggunakan kebel yang tidak kencang (Tigh Line system).

Slack line system kabel pada kedua ujungnya dipasang keras pada kedua tiang sedangkan kabel yang  tidak kencang pada kedua ujungnya (Tigh Line system) hanya pada satu ujung yang dipasangkan keras pada salah satu tiangnya ujung yang lain melalui kabel yang dipasang pada teromol  dimesin sehingga kabel ini dapat ditarik lebih kencang atau diulur lebih panjang. Rata-rata jarak penyaradan dengan sistem ini adalah 400-600 m tetapi ada juga yang dengan melakukan pengukuran terlebih dahulu memiliki jarak yang cukup jauh yaitu 1100 m.

  1. 3. North Bend System

Cara ini termasuk cara yang memakai kabel yang kencang pada kedua ujungnya (tigh line system) dan mempunyai dan mempunyai kabel  peluncur  yang berfungsi untuk mengalirkan katrol untuk menyarad dan mengambil kayu sky line dipasang kencang pada kedua ujung tiang (spar tree).

Cara ini sangat cocok dipakai untuk menyarad kayu-kayu yang mendaki lereng gunung dengan jarak tempuh penyaradannya hampir 500 m. keuntungannya adalah memudahkan kayu yang disarad untuk diawasi.

  1. 4. Modified North Bend System

Cara ini merupakan modifikasi dari North Bend System dimana cara Ini dipakai untuk penyaradan yang dilakukan menuruni lereng gunung. Perbedaan cara ini dengan cara North Bend System terletak pada ujung kabel penyaradan pertama tidak dipasang pada carriage tetapi melalui sebuah cakram yang kembali ke katrol, jika kabel sarad digulung maka kayu yang diikat pada katrol yang bebas disertai kait dan chokers maka kayu akan terangkat dan disarad.

  1. 5. Tyler System

Sistem ini berbeda menurut arah penyaradannya untuk menyarad mendaki lereng  maka diperlukan mesin yang istimewa dengan dua teromol utama, cara ini tidak banyak bergantung pada topografi tempat dimana penyaradan ini digunakan hanya saja cara ini  memiliki beberapa kekurangan dimana pemasukan modal yang besar dan memakan waktu yang lama   untuk memasang kabel dan katrol sehingga biayanya menjadi tinggi, tekanan yang besar pada sky line serta keausan yang besar pada main line pertama. Pemakaian cara ini sangat efektif  jika peluang kayu yang disarad jatuh ketanah atau jurang sangat besar karena tingginya gaya grafitasi kayu yang dilalui saat penyaradan dilakukan dengan mendaki.

Untuk penyaradan dengan menggunakan system kabel pada hutan pendidikan Bengo-bengo Unhas yang jarak antara lokasi penebangan dengan jalan angkutan tidak memakan jarak yang jauh sehingga memudahkan untuk memindahkan log ke truk pengangkut yang kemudian dibawa ke perusahaan.

Cara yang yang cocok digunakan pada hutan pendidikan bengo-bengo adalah North Bend System dimana cara ini  mampu mengangkut kayu pada daerah-daerah yang topografinya curam serta sepenuhnya kayu terangkat di atas tanah saat disarad sehingga tidak mengganggu tumbuhan lain. Cara ini juga dapat menyarad dengan jarak tempuh hingga 500 meter  dimana jika kemungkinan letak lokasi penebangan memiliki lengkungan 5 % yang jika dibulatkan adalah  30 meter. Selain itu juga North Bend System juga mudah dalam proses pengawasannya. Namun dengan kentungan yang dimiliki oleh cara ini tidak menutup kerugian yang dimiliki saat menggunakan  penyaradan dengan kabel secara umum yaitu membutuhkan biaya operasional yang tinggi, membutuhkan tenaga yang ahli, dan berpengalaman guna menghindari kesalahan-kesalahan saat penyaradan berlangsung, tingkat keselamatan pekerja juga rendah sehingga diperlukan perhitungan dan pertimbangan yang matang jika menggunakan system kabel pada kegiatan penyaradan selain itu juga system ini mempunyai standar- standar tertentu.

BAB IV

Penutup

IV. Kesimpulan

Dari penjelasan tentang penggunaan system kabel dalam proses penyaradan diatas dapat disimpulkan bahwa :

  • Sistem kabel sangat baik digunakan dalam proses penyaradan. Dan sangat cocok pada daerah yang curam.
  • Dalam Sistem kabel pengadaan bahan-bahannya sangat sulit dan membutuhkan biaya yang mahal.
  • Terdapat beberapa system kabel yaitu ground skidding kayu masih menyentuh tanah dan High lead lead logging kayu terangkat dari atas tanah.
  • Untuk proses penyaradan pada hutan pendidikan bengo-bengo. cara penyaradan yang cocok adalah North Bend System dimana cara ini  mampu mengangkut kayu pada daerah-daerah yang topografinya curam serta sepenuhnya kayu terangkat di atas tanah saat disarad sehingga tidak mengganggu tumbuhan lain dibawahnya.

DAFTAR PUSTAKA

A.E, Wackerman. 1949. Harvesting Timber Crops. London

Anonim. 2008. Eksploitasi hasil hutan. Fakultas Kehutanan Unhas. Makassar

Haryanto. 1995. Pemanenan Hasil Hutan /  Buku 3 penyaradan. Yayasan Pembinaan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Juta. E.H.P. 1954. Pemungutan hasil Hutan. Timun Mas N.V. Bogor

http.file:///D|/E-Learning/Pemanenan%20hasil%20Hutan/Textbook.html 5/8/2007 3:03:58 PM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: