Maserasi Kayu

by amrullah

I.  PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kayu merupakan hasil hutan dari sumber daya alam yang merupakan bahan mentah yang muda diproses menjadi barang atau bentuk lain yang sesuai dengan kemajuan teknologi. Pengertian kayu adalah suatu barang diporoleh dari hasil pemungutan pohon di hutan yang merupakan bagian pohon tersebut. Kayu berasal dari berbagai pohon yang memiliki sifat berbeda-beda. Bahkan dari pohon memiliki sifat agak berbeda. Sifat yang dimaksud antara lain sifat anatomi kayu, sifat fisika dan kimianya. Dalam hubungannya maka ada perlunya jika sifat-sifat kayu itu diketahui lebih dulu, sebelum dipergunakan berbagai bahan bangunan industri kayu, maupun untuk pembuatan perabotan.

Sejumlah kayu dapat dikenal melalui pengamatan dengan mata biasa dinamakan sifat makroskopis karena untuk pengamatan dengan mata biasa ini tidak dibutuhkan makroskopis. Ciri-ciri penting karena sering ciri tersebut memberikan petunjuk tentang kondisi pohon tersebut, sifat-sifat fisiknya membantu dalam pengenalan kayu. Pengamatan kayu tempat alat optik menunjukkan bahwa tidak hanya terdapat perbedaan antara kayu lunak dan kayu keras, maupun berbagai macam spesies, tetapi juga menunjukkan perbedaan dalam satu sampel, seperti kayu gubal dan kayu teras, linkaran pertumbuhan kayu awal dan kayu akhir, susunan pori, tekstur, jari-jari, kilap, arah serat, kesan raba, dan lain-lain.

Kayu tersusun atas sel yang memanjang dan kebanyakan berorientasi karena longitudinal batang yang dihubungkan melalui pintu yang disebut noktah . sel yang bervariasi tergantung pada fungsinya, memberikan kekuatan mekanis yang diperlukan pohon dan juga melakukan fungsi pengangkutan cairan dan penyimpan cadangan makanan.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dianggap perlu untuk mengadakan  praktikum pengenalan sifat makroskopis kayu seperti warana, pori, tekstur, arah serat, dan jari-jari.

  1. B. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari praktikum pengenalan sifat makroskopis kayu adalah untuk mengetahui sifat-sifat makroskopis kayu seperti warna, kilap, tekstur, arah serat, jari-jari, pori, dan untuk membandingkan antara satu jenis kayu dengan kayu  jenis lainnya.

Kegunaan dari praktikum pengenalan sifat makroskopis kayu adalah untuk mengetahui dan memahami cara untuk mengamati sifat-sifat makroskopis kayu serta untuk membandingkan teori dengan praktikum.

II. TINJAUAN PUSTAKA

  1. Pori, Berkas Pembuluh, Trakeid

Menurut Haygreen dan Bowyer (1996), bahwa pori merupakan sel pembuluh yang berbentuk seperti tabung.  Sel-sel ini saling berhubungan untuk membentuk suatu sistim saluran.  Fungsi pori adalah sebagai jalan masuk saluran mineral dari dalam tanah ke atas pohon.  Antara satu sel pembuluh dengan sel yang lainnya terdapat satu bidang yang disebut bidang perforasi.  Bentuk lubang yang terdapat pada bidang tersebut sangat khas untuk setiap jenis.

Pori tata baur adalah pori kayu yang perubahannya terjadi secara berangsur-angsur sehingga perubahan porinya akan terlihat seragam karena berbaur.  Sedangkan pori tata lingkar adalah pori yang perubahannya terjadi secara mendadak sehingga kelihatan dengan jelas perbedaan antara pori yang besar dengan pori yang kecil.  Selain itu, dikenal juga pori semi tata lingkar dan pori semi tata baur (Serayar, 1997).

Beberapa kayu teras membentuk pori berdiameter besar pada awal musim tumbuh atau disebut berpori lingkar.  Kayu-kayu lain nampak bervariasi pada struktur selnya dalam musim tumbuh sehingga membentuk lingkaran yang sukar dikenali karena porinya hampir sama ukurannya diseluruh lingkaran tumbuh atau disebut berpori baur  (Dumanauw, 1990).

Menurut Dumanauw (1990), kayu terdiri atas beberapa macam sel yang menyusun jaringan-jaringan, memiliki pola tersendiri dalam bentuk, susunan, serta pengaturan dalam kayu. Pada kayu daun jarum (konifer) struktur sel lebih sederhana daripada kayu daun lebar.  Pada kayu konifer jumlah jenis sel lebih sedikit dan kombinasi-kombinasi bentuk-bentuk jaringannya juga lebih sederhana.  Sel pori tidak terdapat pada kayu daun jarum, hanya terdapat pada kayu daun lebar.

Menurut Haygreen dan Bowyer (1996), bahwa pori merupakan sel pembuluh yang berbentuk seperti tabung.  Sel-sel ini saling berhubungan untuk membentuk suatu sistim saluran.  Fungsi pori adalah sebagai jalan masuk saluran mineral dari dalam tanah ke atas pohon.  Antara satu sel pembuluh dengan sel yang lainnya terdapat satu bidang yang disebut bidang perforasi.  Bentuk lubang yang terdapat pada bidang tersebut sangat khas untuk setiap jenis.

Pori adalah sel yang berbentuk batang tabung atau gendang yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya secara vertiakal. Pada bidang lintang kayu, pori terlihat berbentuk lubang kecil bila dilihat dengan mata biasa (Dumanauw 1995).

Menurut Fegel dan Weneger (1995), bahwa jika ditinjau aspek penyebarannya, maka pori dapat dibagi atas :

1.pori tata lingkar yaitu pori pada permukaan lintang kayu yang sedemikian rupa, sehingga terdapat konsentris pori-pori permukaan besar dan pori-pori berukuran kecil secara bargantian.

2.Pori tata baur adalah pori-pori berbagai ukuran terdapat secara baur atau terjadi         pembauran.

3. Pori semi tata lingkar dan semi tata baur adalah penggabungan antara pori tata baur dan pori tata lingkar.

Sturuktur kayu daun jarum  lebih sederhana bila dibandingkan dengan  kayu daun lebar. Pada kayu konifer atau kayu daun jarum memiliki kombidasi bentuk-bentuk jaringan yang lebih sederhana. Sel pori tidak terdapat pada kayu daun jarum, akan tetapi hanya terdapat di kayu daun lebar dan sebagai pengganti fungsi dari pori kayu daun jarum memiliki trakeid (Dumanauw, 1990).

Secara umum batang tersusun atas epidermis yang berkutikula dan kadang terdapat stomata, sistem jaringan dasar berupa korteks dan empulur, dan sistem berkas pembuluh yang terdiri atas xilem dan floem. Xilem dan floem tersusun berbeda pada kedua kelas tumbuhan tersebut. Xilem dan floem tersusun melingkar pada tumbuhan dikotil dan tersebar pada tumbuhan monokotil ( http://bima.ipb)

Menurut  Sanusi (1990), ada dua macam trakeid daun lebar yaitu trakeid vaskular dan trakeid vasisentrik.

  1. Trakeid vaskular memiliki ukuran, berntuk dan letak yang sangat mirip dengan unsur pembuluh kayu akhir, kecuali bahwa kedua ujung trakeid ini tidak berforasi. Trakeid vaskular tersusun dalam baris vertikal seperti halnya unsur pembulugh kecil yang bergabung dengannya.
  2. Trakeid  vasisentrik berukuran pendek, memiki bentuk yang tidak teratur dan kedua ujungnya tidak berperforasi. Trkeid vasisentrik banyak terdapat disekitar pembuluh awal dari kayu berpori tata lingkar.
  1. Warna kayu

Warna kayu terutama disebabkan oleh bahan-bahan yang mengandung zat ekstraktif.  Namun, kebanyakan komponen dinding selnya kecuali selulosa turut menyebabkan terjadinya warna karena permukaan kayu yang diekspos mengalami oksidasi.  Warna kayu bervariasi, tidak hanya antara jenis pohon yang berbeda tetapi juga diantara pohon dalam satu jenis, bahkan sering berbeda dalam potongan kayu yang sama (Sanusi, 1990).

Warna kayu ada beraneka ragam antara lain kuning, hitam, keputih-putihan, coklat muda, coklat tua, kemerah-merahan dan lain sebagainya.  Hal ini disebabkan oleh zat pengisi warna yang berbeda-beda.  Warna kayu dapat disebabkan oleh faktor-faktor kelembaban kayu, tempat dalam batang, umur pohon dan adanya zat ekstraktif dalam sel kayu.  Kayu teras umumnya memiliki warna kayu yang lebih gelap dari pada kayu gubalnya.  Kayu yang lebih tua dapat memiliki warna yang lebih gelap dari kayu yang lebih muda dari jenis kayu yang sama.  Kayu yang kering berbeda pula dengan kayu yang masih basah.  Pada umumya, warna kayu bukanlah warna yang murni tetapi warna campuran dari berbagai jenis warna kayu yang ada (Dumanauw, 1990).

Menurut Haygreen dan Bowyer (1996), bahwa kayu teras lebih gelap warnanya dibandingkan dengan kayu gubal.  Tetapi hal ini bukan berarti tidak ada kayu teras yang memiliki warna yang terang.  Hal ini disebabkan oleh zat ekstraktif yang terdapat dalam kayu tersebut.  Kayu keras menunjukkan variasi yang lebih luas dalam pewrnaan kayu teras dari pada kayu lunak.

Warna kayu ada beraneka ragam antara lain kuning, hitam, keputih-putihan, coklat muda, coklat tua, kemerah-merahan dan lain sebagainya.  Hal ini disebabkan oleh zat pengisi warna yang berbeda-beda.  Warna kayu dapat disebabkan oleh faktor-faktor kelembaban kayu, tempat dalam batang, umur pohon dan adanya zat ekstraktif dalam sel kayu.  Kayu teras umumnya memiliki warna kayu yang lebih gelap dari pada kayu gubalnya.  Kayu yang lebih tua dapat memiliki warna yang lebih gelap dari kayu yang lebih muda dari jenis kayu yang sama.  Kayu yang kering berbeda pula dengan kayu yang masih basah.  Pada umumya, warna kayu bukanlah warna yang murni tetapi warna campuran dari berbagai jenis warna kayu yang ada (Dumanauw, 1990).

Warna kayu merupakan sifat kayu yang ditimbulkan oleh zat ekstraktif yang dikandung oleh kayu dalam hal ini yang berwarna kecoklatan. Pada umumnya kayu teras memiliki warna kayu yang lebih gelap dari pada warna kayu yang berbada disebelah luar yaitu kayu gubal (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Menurut Sjastrom (1995), bahwa warna kayu dalam kayu disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut :

1. Umur pohon

2. kelembaban udara

3. Posisi dalam batang

4. jamur atau serangga perusak kayu

Kayu memiliki nilai dekoratif tinggi yang berasal dari pola serat dan warna indah yang nampak pada penampang longitudinal.  Jika nilai dekoratif kayu dipadukan dengan sifat fisiknya maka kayu memiliki sifat khas yang tidak dimiliki oleh bahan bangunan lainnya.  Pola serat atau warna indah pada kayu sering disebut gambar atau corak. Warna dalam kayu terutama disebabkan oleh bahan ekstraktif.  Warna kayu bervariasi tidak hanya diantara jenis pohon yang berbeda tetapi juga dalam satu jenis, bahkan dalam potongan kayu yang sama.  Adanya perbedaan warna dikombinasi dengan serat dan gambar dalam kayu menyebabkan setiap potongan kayu menjadi unik dan menambah nilai dekoratif pada kayu. (Sanusi, 1990).

Warna kayu oleh sinar dan cuaca, karena itu bukan faktor yang konstan. Untuk pengenlan kayu lainnya diperhatikan warna kayu teras (Panshin dan De zeew, 1980).Sinar matahari juga sanagat mempengaruhi warna kayu contohnya pada kayu mahoni (Swietania macrophylla) mula-mula berwarna putih lama kelamaan berwarna lebih tua. Oleh karene itu dalam mengidentifikasi warna kayu, pengamatan yang dilakukan yang dilakukan adalah warna kayu bidang logitudinal yang baru dari kayu (Soenardi, 1974).

  1. Tekstur kayu

Tekstur adalah sifat kayu yang nampak menunjukkan ukuran relatif dari sel-sel yang nampak dalam suatu jenis kayu tertentu oleh besar kecilnya rongga kayu oleh karena kecilnya rongga kayu dan keseragaman ciri ukuran-ukuran sel yang menyusun kayu. Pada umumnya tekstur kayu dibagi atas :

–    Kayu tekstur kasar : yaitu kayu yang memiliki rongga sel yang besar dan tersebar menyeluruh pada pohon.

–    Kayu bertekstur halus : yaitu kayu yang memiliki rongga sel kecil dan tersebar menyeluruh pada batang pohon.

Tekstur berukuran dengan ukuran dan kualitas unsur-unsur kayu. Kayu dapat bersektur kasar, halus, rata, tidak rata, licin, dan tidak licin. Pada kayu jarum , ukuran yang terbaik bagi tekstur ialah diameter tangensial sel-sel trekaid (Soenardi,1974).

Tekstur kayu dinyatakan kasar atau halus tergantung pada besar kecilnya elemen kayu.  Serat menunjukkan susunan dan arah elemen kayu.  Serat terpadu yaitu bila batang kayu terdiri dari lapisan-lapisan yang secara berselang seling mempunyai serat yang arahnya bergantan dari kiri ke kanan    terhadap sumbu batang (Dephut, 1986).

Perbedaan tekstur pada berbagai jenis kayu disebabkan oleh adanya variasi tekstur sel  dan ukuran sel penyusun masing-masing kayu yang berbeda.  Kayu yang memiliki pori besar kemungknan memiliki tekstur yang kasar sedangkan kayu yang berpori kecil memiliki tekstur yang halus (Dumanauw, 1990).

Tekstur sering digunakan secara umum menyatakan semua sel kayu yang terpisahkan dalam proses pempuatan pulp. Namun dalam konteks morfologi kayu istilah tekstur adalah xylem kayu teraspanjang meruncing dan biasa berdinding tebal (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Tekstur kayu ditentukan oleh sel kayu dan keseragaman ukuran sel kayu yang menyusun kayu. Kayu yng bertekstur rata adalah kayu yang mempunyai keseragaman dimensi sel stau memiliki rongga sel yang ukurannya sama diseluruh batang (Fahn, 1991).

D. Kekerasan kayu

Kekerasan atau kelunakkan kayu merupakan petunjuk penting dalam menentukan sifat fisik kayu.  Kekerasan dari suatu jenis kayu biasanya ditentukan oleh banyak tidaknya zat dinding sel dalam kayu.  Kayu keras biasanya dihasilkan dari kayu daun lebar yang menggugurkan daunnya pada musim kemarau atau musim gugur sedangkan kayu daun jarum menghasilkan kayu lunak.  Dalam pembagian antara kayu daun lebar dan kayu daun jarum didasarkan atas ada tidaknya pembuluh (Sjostrom, 1995).

Menurut Fengel dan Wegener (1983), kekerasan kayu adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang membuat takik atau suatu lekukkan.  Kekerasan kayu dan kelunakkan kayu merupakan petunjuk penting dalam menentukan sifat fisik kayu terutama tergantung pada banyaknya zat dinding sel.

Cara untuk mengetahui kerasnya suatu kayu yaitu dengan cara memotong kayu tersebut arah melintang dan mencatat atau menilai kesan raba dan kilapnya pada bidang potongan yang dihasilkan.  Kayu yang keras akan sangat sulit dipotong pada arah melintangnya dengan pisau.  Kayu lunak akan mudah rusak dan hasil potongan melintang akan memberikan hasil yang kusam/kasar pada kayu tersebut  (Dumanauw, 1990).

Pada umumnya kayu keras dihasilkan oleh kayu yang  berdaun lebar sedangkan kayu lunak banyak terdapat pada kayu daun jarum.  Kayu lunak biasa juga disebut kayu non poreus dan kayu keras disebut dengan kayu poreus.  Dasar dari pembagian tersebut bahwa kayu poreus memiliki pembuluh atau saluran pembuluh yang memanjang sejajar sumbu pohon (Soenardi, 1994).

Kekerasan kayu adalah suatu ukuran kekerasan kayu dalam menahan gaya yang membuat lekukan pada kayu dapat pula diartikan sebagai kemampuan kayu dalam menahan kikisan. Hal ini merupakan suatu pertimbangan dalam menentukan suatu jenis kayu untuk digunakan sebagai lantai rumah (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Cara menentukan kekerasan kayu adalah dengan memotong kayu tersebut dengan arah lintang dan mencatat atau menilai kesan perlawanana oleh kayu tersebut pada saat pemotongan dan kilapnya bidang pemotongan yang dihasilkan oleh kayu tersebut (Dumanauw, 1990).

Kekerasan atau kelunakan kayu merupakan petunjuk penting dalam menentukan sifat fisik kayu. Kekerasan kayu  terutama bergantung pada banyaknya zat dinding sel dalam kayu. Tidak ada cara yang paling tepat dalam menentukan kekerasan dalam sepotong kayu kucuali mengujinya dengan peralatan yang khusus ( Sanusi, 1990 ).

Menurut Fengel dan Wegner (1983), kekerasan kayu adalah kemampuan untuk menahan gaya yang membuat takik atau lekukan.Kekerasan kayu dan kelunakan kayu merupakan petunjuk penting dalammenentukan sifat fisik kayu. Kekerasan kayu tergantung pada banyaknya zat dalam dinding sel kayu.

  1. Berat kayu

Berat suatu jenis kayu tergantung dari jumlah zat kayu yang tersusun, rongga selnya, jumlah pori, kadar air yang terkandung didalamnya dan zat-zat ekstraktifnya.  Berat suatu jenis kayu ditunjukkan dengan besarnya berat jenis kayu yang bersangkutan dan dipakai sebagai patokan berat kayu (Dumanauw, 1990).

Umumnya kayu memiliki berat antara 0,2-0,8 gram/cm3, jika kayu tidak memiliki ruangan antar sel maka besarnya 12,3 gram/cm3.  Berat kayu juga dipengaruhi oleh banyaknya pori dalam kayu.  Semakin banyak pori pada kayu, maka semakin ringan dan sebaliknya kayu yang kurang memiliki pori maka kayu tersebut akan semakin berat (Sanusi, 1985).

Pada umumnya terdapat hubungan langsung antara berat suatu kayu dengan kekerasanya.  Semakin keras suatu kayu, maka akan semakin berat dan sebaliknya apabila kayu tersebut lunak, maka akan semakin ringan pula kayu tersebut. Sehingga kita dapat membedakan antara berat suatu jenis kayu dengan jenis kayu lainnya (Serayar, 1987).

Berat suatu jenis kayu tergantung jumlah zat kayu yang tersusun, rongga-rongga sel atau pori-pori, kadar air yang dikandung dan zat ekstraktif yang terdapat didalamnya. Berat suatu jenis kayu ditunjukkan dengan besarnya berat jenis kayu yang bersangkutan dan dipakai sebagai patokan berat kayu (Dummanauw, 1990).

Menurut Sanusi (1990) berat kayu menuntu kerapatan beban kayu yang terdapat dalam setiap satuan isi, kadar ekstaktif kayu dan kandungan air kayu yang dipakai dalam pengenalan kayu. Hal ini berarti bahwa jika menggunakan berat kayu sebagai kreteria dalam pengenalan kayu (Soenardi, 1972).Berat kayu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

–          Kerapatan kayu

Semakin tinggi kerapatan suatu kayu maka semakin berat kayu tersebut. Contoh kayu teras lebih berat dari pada kayu awal. Hal ini disebabkan karena kayu teras memiliki kerapatan yang lebih tinggi dibandingkan kayu gubal.

–          Zat ekstraktif

Semakin tinggi kadara zat ekstraktif suatu kayu, maka akan semakin tinggi pula tingkat berat kayu tersebut.

–          Kadar air

Semakin tinggi kadar air dalam suatu pohon, maka akan semakin tinggi pula tingkat kayu tersebut.

Berat kayu beragam menurut kerapatan kayu yang terdapat dalam satuan isi, kadar eksraktif kayu dan kandungan air kayu.Kayu sering mengandung banyak bahan-bahan eksratif dan infiltrasi meliputih terpen, resin, polifenol gula, minyak dan senyawa-senyaw anorganik yang dapat mempengaruhi berat jenis kayu. Apabilah zat ekstratif ini dikeluarkan, maka beratnya akan berkurang dan cenderung akan menysul lebih banyak apabila dikeringkan karena efek penyumbatan telah hilang (Sjoestrom, 1995).

F. Kilap kayu

Kilap kayu adalah suatu sifat kayu yang dapat memantulkan cahaya dimana kilap kayu bergantung pada sudut datangnya sinar yang mengenai permukaan kayu dan juga tergantung pada tipe sel yang menyusun permukaan kayu.  Kayu berkadar ekstraktif lebih berkilap dari pada yang berkadar ekstraktif tinggi.  Kayu yang mengandung minyak atau lemak umumnya kurang mengkilap                           (Sanusi, 1990).

Kilap adalah suatu sifat kayu yang daapat memantulkan cahaya sehinggga memperlihatkan kilap atau mengkilap.  Kilap kayu tergantung pada sudut datangnya sinar yang mengenai  permukaan kayu, misalnya bidang radial kayu yang umumnya memantulkan cahaya lebih kuat dibandingkan bidang tangensialnya sehingga bidang radial lebih mengkilap dari pada bidang tangensial.  Hal ini disebabkan oleh banyaknya noda jari-jari yang dapat memantulkan cahaya pada bidang radial.  Namun, penyebab utamanya tergantung dari ada tidaknya zat ekstraktif kayu.  Kayu teras akan lebih mengkilap jika dibandingkan dengan kayu gubal (Dephut, 1985).

Adanya variasi kilap pada kayu disebabkan oleh susunan anatomi kayu yang berbeda  pada kayu tersebut.  Selain itu, juga dipengaruhi oleh kerapatan dari sifat sel-sel kayu.  Kandungan zat ekstraktif dan bidang pemeriksaan serta sudut datangnya sinar.  Kandungan air dalam kayu juga memegang peranan penting dalam menentukan kilap.  Makin tinggi kadar air dalam kayu, makin kusam permukaan kayu dan sebalikntya , makin rendah kadar air kayu, maka permukaaan kayu akan mengkilap (Sjostrom, 1995).

Adanya variasi kilap pada kayu disebabkan oleh susunan anatomi kayu yang berbeda  pada kayu tersebut.  Selain itu, juga dipengaruhi oleh kerapatan dari sifat sel-sel kayu.  Kandungan zat ekstraktif dan bidang pemeriksaan serta sudut datangnya sinar.  Kandungan air dalam kayu juga memegang peranan penting dalam menentukan kilap.  Makin tinggi kadar air dalam kayu, makin kusam permukaan kayu dan sebalikntya , makin rendah kadar air kayu, maka permukaaan kayu akan mengkilap (Sjostrom, 1995).

Kilap kayu tergantung pada sudut datangnya sinar yang mengenai permukaan kayu dan juga tergantung pada tipe sel yang menyusun permukaan kayu. Misalnya, bidang radial lebih berkilau dari pada bidang tangensial, sehingga bidang radial lebih mengkilap dari bidang tangensial. Hal ini disebabkan oleh banyaknya noda pada jari-jari ( ray flecks) yang dapat memantulkan cahaya pada bidang radial (Sanusi, 1990).

Penyebab utama tentang ada tidaknya kilap pada kayu yaitu kandungan zat ekstraktif tinggi. Kayu yang mengandung zat-zat minyak atau lemak umumnya kurng mengkilap (Raygeen dan Bowyer, 1996).

Peranan zat ekstraktif sangat menentukan kilap. Kayu berekstraktif rendah kilapnya. Demikian pulah kandungan kadar air dalam dalam kayu juga memegang peranan penting dalam menentukan kilap, semakin tinggi kadar air makin suram kayu tersebut. Seingga kayu yang mulai busuk ditandai dengan hilangnya kilap, seolah-olah mati tak bercahaya (Soenardi, 1974)

  1. Arah Serat kayu

Arah serat adalah arah sejajar sumbu batang yang sebagian besar serat kayunya meruncing dan panjang.  Arah serat dapat ditentukan oleh alur-lur yang terdapat pada permukaan kayu.  Kayu dikatakan berserat lurus jika arah sel-selnya melintang atau membentuk sudut terhadap sumbu panjang batang, maka kayu tersebut dikatakan serat moncong (Dumanauw, 1990).

Arah serat adalah arah sejajar sumbu batang yang sebagian besar serat kayunya meruncing dan panjang.  Arah serat dapat ditentukan oleh alur-lur yang terdapat pada permukaan kayu.  Kayu dikatakan berserat lurus jika arah sel-selnya melintang atau membentuk sudut terhadap sumbu panjang batang, maka kayu tersebut dikatakan serat moncong (Dumanauw, 1990).

Menurut Haygreen dan Bowyer (1996), istilah serat sering digunakan secara umum untuk menyatakan semua sel-sel kayu yang terpisahkan dalam pembuatan pulp.  Namun dalam konteks morfologi kayu, istilah serat menyatakan tipe sel yang lebih spesifik.  Karena serat merupakan xilem kayu keras yang panjang, meruncing dan biasanya berdinding tebal.  Dari pandangan sepintas, nampak serupa dengan trakeid longitudinal tetapi bila diamati lebih jelas akan nampak perbedaan yang nyata pada trakeid yang dimaksud.

Serat merupakan sel-sel kayu yang arahnya longitudinal, dimana serat kayu ditentukan oleh bentuk belahan yang dihasilkan ketika kayu dibelah.  Jika bahan belahan datar maka kayu disebut berserat lurus, jika bidang belahan berombak maka disebut berserat berombak.  Dalam pohon arah serat kayu yang berpuntir berselang kekiri atau kekanan dari empulur sampai kekulit disebtu serat terpadu dan pada kayu gergajian yang arah seratnya menyimpang dari arah sumbu panjang potongan kayu disebut berserat melintang.  kesan raba sangat dipengaruhi oleh tekstur kayuitu sendiri. Sifat ini biasa digunakan untuk pengenalan pada beberapa jenis kayu tertentu namun tidak dapat berlaku secara umum. Pada kayu rengas misalnya, terdapat zat ekstraktif yang memberikan rasa gatal dan ini merupakan ciri yang sangat mencolok untuk kesan raba pertama. Kesan raba berikutnya biasanya untuk penggunaan kayu yang mewah misalnya untuk mebel (Sanusi, 1990).

Menurut Dunnanaw (1990), bahwa arah sejajar sumbu panjang sebagian besar serat-serat kayu yang panjang dan meruncing disebut daerah serat. Arah serat dapat ditentukan oleh alur-alur yang terdapat pada permukaan kayu. Kayu dikatakan berserat  lurus ketika arah sel-sel kayunya sejajar sumbu batang. Jika arah sel-sel itu menyimpang atau membentuk sudut terhadap sumbu panjang batang, maka kayu tersebut dikatakan serat moncong dapat dikelompokkan menjadi :

–  Serat terpadu

Bila batang kayu terdiri dari lapisan-lapisan yang selang seling, menyimpan kekiri kemudian kekanan terhadap sumbu batang.

–    Serat berobak

Serat kayu yang berbentuk gambaran berombak

–    Serat terpilin

Serat yang membuat gambaran terpilin seolah-olah batang dipilin mengelilingi sumbu.

–    Sumbu diagonal

Serat yang terdapat pada potongan kayu atau papan yang digergaji sedemikian rupa sehingga tepinya tidak sejajar arah sumbunya.

Dalam konteks morfologi kayu, istilah serat menyatakan tipe sel yang lebih spesifik . karena adanya serat atau tepatnya disebut trakeid serabut adalah xylem kayu keras yang panjang, meruncing biasanya berdinding tebal. Dari pandangan sepintas nampak serupa dengan trakeid longitudinal, tetapi bila lebih diamati akan nampak perbedaan yang nyata (Hyagreen dan Bowyer, 1996).

Dalam pohon jika arah serat terpuntir sepanjang batang pohon, maka kayu disebut berserat terpuntir.Serat terpuntir yang arahnya berselang-seling ke kiri atau ke kanan milai dari empulur sampai ke kulit disebut serat berpadu.Pada kayu gergajian jika arah serat menyimpang dari arah sumbuh panjang potongan kayu maka kayu disebut berserat melintang (Sanusi, 1990).

H.. Kesan Raba

Kesan raba adalah kesan yang kita peroleh saat kita meraba permukaan suatu kayu tertentu. Ada kayu yang bila diraba terasa kasar, licin dan sebagainya. Kesan raba yang berbeda-beda tersebut untuk setiap jenis kayu tergantung dari tekstur kayu, besra kecilnya air dan dikandung serta kadar zat ekstraktif yang terdapat pada kayu (Doanauw, 1990).

Menurut Djamal Sanusi (1990), kesan raba sangat dipengaruhi oleh tekstur kayuitu sendiri. Sifat ini biasa digunakan untuk pengenalan pada beberapa jenis kayu tertentu namun tidak dapat berlaku secara umum. Pada kayu rengas misalnya, terdapat zat ekstraktif yang memberikan rasa gatal dan ini merupakan ciri yang sangat mencolok untuk kesan raba pertama. Kesan raba berikutnya biasanya untuk penggunaan kayu yang mewah misalnya untuk meubel

Kesan raba suatu jenis kayu kesan yang diperoleh saat kita meraba permukaan kayu. Kesan raba berbeda-beda untuk untuk tiap-tiap jenis kayu tergantung dari tekstur kayu besar kecilnya air yang dikandung, dan zat ekstraktif dalam kayu. Kesan raba ialah licin, bila tekstur kayunya halus dan permukaan mengandung lilin. Dan sebaliknya bila keadaan tekstur kayunya kasar, kesan raba dingin ada pada kayu bertekstur halus dan berat jenis tinggi. Sebaliknya terasa panas bila teksturnya kasar dan berat jenisnya rendah. Jadi memberi kesan raba agak berlemak atau berlilin kalau diraba (Dumanauw, 1982).

Kesan raba suatu jenis kayu adalah kesan yang diperoleh pada saat kita meraba permukaan kayu.  Ada kayu yang bila diraba memberi kesan kasar, halus dan licin bahkan memberi kesan dingin.  Kesan raba yang berbeda-beda akan mempermudah dalam pengenalan kayu.  Perbedan kesan raba tergantung tekstur kayu,  kadar air yang dikandung oleh kayu dan banyaknya kandungan zat ekstraktif dalam kayu.  Kesan raba licin bila tekstur kayu halus permukannya dan mengandung lilin sedangkan kesan raba kasar bila tekstur kayunya kasar.  Kesan raba dingin ada pada kayu bertekstur halus dan berat jenisnya tinggi serta terasa panas jika teksturnya kasar dan berat jenisnya rendah (Dumanauw, 1990).

DAFTAR PUSTAKA

Dephut. 1976. Vandecum Kehutanan Indonesia. Direktotat Jendral Kehutanan Depertemen Pertanian; Jakarta.

Dumanauw, 1990, Mengenal kayu. Gajah Mada Press; Jogjakarta.
Dumanauw, 1995. Mengenal kayu. Gajah Mada Press; Jogjakarta.

Dumanauw, 1990, Mengenal kayu. Konssios; Jogjakarta.

Fegel dan Weneger, 1995. Kayu. Kimia Utrasturuktur Reaksi-reaksi. Gajah Mada Universitas Press; Jogjakarta.

Haygreen dan Bowyer. 1996. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Gajah Mada Universitas Press; Jogjakarta.

Pandit dan Ramdan, H. 2005, Anatomi Kayu : Pengantar Sifat Kayu sebagai Bahan Baku, Tarsito, Bandung.

Sanusi, Djamal. 1990. Teknologi Kayu , Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin ; Makassar.

Sjostrom, E. 1995. Kimia kayu. Gajah Mada Universitas Press; Jogjakarta.

Sonardi, B. 1974. Ilmu Kayu. Yayasan Pembinaan Pertanian dan Kehutanan , UGM ; Jogjakarta.

III. METODE PRAKTEK

A. Waktu dan tempat

Praktikum pengenalan sifat makroskopis kayu ini dilaksanakan pada hari selasa, tanggal 9 oktober 2007, (pada pukul 13.00 – 15.00 wita), di Laboraturium Sifat Dasar Dan Teknologi Kimia Hasil Hutan, Jurusan Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Universitas hasanuddin.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

– Cutter (pisau tajam)

– Lup

– Buku gambar A4

– Alat tulis menulis

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel 5cm X 5cm X 5cm. adapun sampel kayu yang digunakan adalah sebagai berikut :

  1. Johar (Casia siamea)
  2. Pinus (Pinus mercusii)
  3. Pulai (Alstonia scholaris)
  4. Jambu batu (Psidium guajava)
  5. Rotan (Calamus sp.)
  6. Sukun ( Arthocurpus communis )

C. Prosedur Kerja

1. Menyiapkan potongan kayu 5x5x5 cm yang akan diamati

2. Mengamati sifat maksoskopis kayu secara langsung untuk kilap, warna kayu, serat, tekstur, jari-jari dan berat

3. Dengan bantuan lup, mengamati sebaran pori kayu

4.Untuk kesan raba dan kekersaan menggunakan kuku atau cutter.

5. Mencatat hasi pengamatan

6. Menggambar pori-pori dan jari-jari kayu yang diamati.

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI KAYU

PENGENALAN SIFAT MAKROSKOPIS KAYU

Oleh :

Nama            :    Erviana jayanti

Stambuk       :    M 121 06 022

Kelompok     :    I (satu)

Asisten          :   Muh. Daud

LABORATURIUM SIFAT DASAR  DAN  TEKNOLOGI KIMIA   HASIL HUTAN

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2007

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

Berdasarkan hasil pengamatan sifat makroskopis kayu di laboratorium, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel  1 Hasil Pengamatan Pori

No Jenis Kayu Sebaran Pori Jelas Dengan Mata Telanjang Jelas Dengan Lensa Hanya Jelas Dengan Lensa
A B C
1 Johar

(Casia siamea)

2 Pinus

(Pinus mercusii)

3 Pulai

(Alstonia scholaris)

4 Jambu batu

(Psidium guajava)

5 Rotan

(Calamus sp.)

6 Sukun

(    Arthocurpus communis )

Sumber : Data primer setelah diolah

Keterangan :

A = Pori tata lingkar

B = Pori tata baur

C = Pori semi tata lingkar / baur

Tabel 2 . Hasil Pengamatan Warna

No Jenis Kayu Keputih Putihan Kuning Mudah Coklat Tua Kecoklat

Coklatan

Pink Merah Coklat Kemerahan dll
1 Johar

(Casia siamea)

2 Pinus

(Pinus mercusii)

3 Pulai

(Alstonia scholaris)

4 Jambu batu

(Psidium guajava)

5 Rotan

(Calamus sp.)

6 Sukun

(    Arthocurpus communis )

Tabel 3. Hasil Pengamatan tekstur

No Jenis Kayu Halus (diameter sel serabut < 30 μ) Agak kasar (diameter sel serabut 30-45 μ) Kasar (diameter sel serabut > 45 μ) keterangan
1 Johar

(Casia siamea)

2 Pinus

(Pinus mercusii)

3 Pulai

(Alstonia scholaris)

4 Jambu batu

(Psidium guajava)

5 Rotan

(Calamus sp.)

6 Sukun

(    Arthocurpus communis )

Tabel 4. Hasil Pengamatan Kekerasan

No Jenis kayu Sangat keras Keras Sedang Sangat lunak
1 Johar

(Casia siamea)

2 Pinus

(Pinus mercusii)

3 Pulai

(Alstonia scholaris)

4 Jambu batu

(Psidium guajava)

5 Rotan

(Calamus sp.)

6 Sukun

(    Arthocurpus communis )

Tabel 5. Hasil Pengamatan Berat

No Jenis Kayu Sangat Berat Berat / Agak berat Ringan / Agak Ringan Sangat Ringan
1 Johar

(Casia siamea)

2 Pinus

(Pinus mercusii)

3 Pulai

(Alstonia scholaris)

4 Jambu batu

(Psidium guajava)

5 Rotan

(Calamus sp.)

6 Sukun

(    Arthocurpus  communis )

Tabel 6. Hasil Pengamatan Kilap

No Jenis Kayu Kilap
Kusam agak mengkilap sangat mengkilap
1 Johar

(Casia siamea)

2 Pinus

(Pinus mercusii)

3 Pulai

(Alstonia scholaris)

4 Jambu batu

(Psidium guajava)

5 Rotan

(Calamus sp.)

6 Sukun

(    Arthocurpus  communis )

Tabel 7. Hasil Pengamatan Arah Serat dan Kesan Raba

No Jenis Kayu Arah Serat Kesan Raba
Lurus Miring Terpadu Licin Kasar
1 Johar

(Casia siamea)

2 Pinus

(Pinus mercusii)

3 Pulai

(Alstonia scholaris)

4 Jambu batu

(Psidium guajava)

5 Rotan

(Calamus sp.)

6 Sukun

(    Arthocurpus communi )

B. Pembahasan
a. Pori, berkas pembuluh, trakeid

Berdasarkan kayu yang diamati pada praktikum pengenalan sifat makroskoskopis yaitu terdapat 6 jenis kayu, ada yang memiliki pori, berkas pembulu, dan trakeid. Rotan (Calamus sp.) hanya memiliki berkas pembuluh disebabkan karena rotan merupakan tumbuhan monokotil. Johar (Casia siamea) dan Jambu batu (Psidium guajava) memiliki pori tata baur, Pulai (Alstonia scholaris) dan Sukun (Arthocurpus communis) memiliki pori semi tata lingkar/ baur. Sedangkan Pinus (Pinus mercusii) memiliki tarekeid karena termasuk kayu jarum. Sturuktur kayu daun jarum  lebih sederhana bila dibandingkan dengan  kayu daun lebar. Pada kayu konifer atau kayu daun jarum memiliki kombidasi bentuk-bentuk jaringan yang lebih sederhana. Sel pori tidak terdapat pada kayu daun jarum, akan tetapi hanya terdapat di kayu daun lebar dan sebagai pengganti fungsi dari pori kayu daun jarum memiliki trakeid. berkas pembuluh yang terdiri atas xilem dan floem. Xilem dan floem tersusun berbeda pada kedua kelas tumbuhan tersebut. Xilem dan floem tersusun melingkar pada tumbuhan dikotil dan tersebar pada tumbuhan monokotil seperti pada rotan.

b. warna kayu

Berdasarkan tabel 2 dari hasil pengamatan 6 kayu, diperoleh bahwa kayu coklat tua yaitu : Pulai (Alstonia scholaris).  Yang mempunyai warna kecoklat-coklatan yaitu : Rotan (Calamus sp.), Johar (Casia siamea), Pinus (Pinus mercusii)  dan Jambu batu (Psidium guajava). Keputih-putihan yaitu : Sukun (Arthocurpus comunis). Warna kayu merupakan sifat kayu yang ditimbulkan oleh zat ekstraktif yang dikandung oleh kayu dalam hal ini yang berwarna kecoklatan. Pada umumnya kayu teras memiliki warna kayu yang lebih gelap dari pada warna kayu yang berbada disebelah luar yaitu kayu gubal. Kayu yang warnanya bersih dapat digunakan sebagai alat gambar.

c. Tekstur kayu

–    Berdasarkan tabel 3 dari hasil pengamatan 6 kayu  diperoleh bahwa  tekstur  kayu yang Agak  agak kasar (diameter sel serabut 30-45 μ) yaitu : Johar (Casia siamea), Pinus (Pinus mercusii), Sukun (Arthocurpus comunis) dan Jambu batu (Psidium guajava)yang mempunyai tekstur  kasar (diameter sel serabut > 45 μ) yaitu : Rotan (Calamus sp.) dan Pulai (Alstonia scholaris). Kayu yang  tekstur kasar yaitu kayu yang memiliki rongga sel yang besar dan tersebar menyeluruh pada pohon.  Kayu bertekstur halus  yaitu kayu yang memiliki rongga sel kecil dan tersebar menyeluruh pada batang pohon. Kayu yang bertekstur halus digunakan sebagai alat olah raga,  dan alat gambar .

d. Kekerasaan kayu

Berdasarkan tabel 4 dari hasil pengamatan 6 kayu  diperoleh bahwa kayu yang mempunyai kekerasan keras yaitu Jambu batu (Psidium guajava) dan Pulai (Alstonia scholaris). Yang mempunyai kekersaan sedang yaitu Johar (Casia siamea),  Pinus (Pinus mercusii) dan Rotan (Calamus sp.). Yang mempunyai kekerasan yang sangat lunak yaitu : Sukun (Arthocurpus communis). Kekerasan atau kelunakan kayu merupakan petunjuk penting dalam menentukan sifat fisik kayu. Kekerasan kayu  terutama bergantung pada banyaknya zat dinding sel dalam kayu. Tidak ada cara yang paling tepat dalam menentukan kekerasan dalam sepotong kayu kucuali mengujinya dengan peralatan yang khusus. Kekerasan kayu dan kelunakan kayu merupakan petunjuk penting dalam menentukan sifat fisik kayu. Kayu yang keras dapat digunakan bahan untuk bahan bangunan, lantai,  patung dan ukiran kayu, korek api dan popor senjata.

e. Berat kayu

Berdasarkan tabel 5 dari hasil pengamatan 6 kayu  diperoleh bahwa kayu yang berat/agak berat yaitu : Johar (Casia siamea), Pinus (Pinus mercusii)  dan Jambu batu (Psidium guajava). Yang mempunyai  yang ringan / agak ringan yaitu Pulai (Alstonia scholaris). Dan sangat ringan rotan (Colamus sp.) dan Sukun (Arthocurpus communis). Berat suatu jenis kayu tergantung jumlah zat kayu yang tersusun, rongga-rongga sel atau pori-pori, kadar air yang dikandung dan zat ekstraktif yang terdapat didalamnya. Berat suatu jenis kayu ditunjukkan dengan besarnya berat jenis kayu yang bersangkutan dan dipakai sebagai patokan berat kayu. Berat kayu menuntuan kerapatan beban kayu yang terdapat dalam setiap satuan isi, kadar ekstaktif kayu dan kandungan air. Berat kayu beragam menurut kerapatan kayu yang terdapat dalam satuan isi, kadar eksraktif kayu dan kandungan air kayu. Kayu sering mengandung banyak bahan-bahan eksratif dan

infiltrasi meliputi terpen, resin, polifenol gula, minyak dan senyawa-senyawa anorganik yang dapat mempengaruhi berat jenis kayu. Apabilah zat ekstratif ini dikeluarkan, maka beratnya akan berkurang dan cenderung akan menysul lebih banyak apabila dikeringkan karena efek penyumbatan telah hilang. Kayu yang barat sedang dapat digunaan untuk mebel dan kayu yang ringan digunakan untuk alat olah raga,alat gambar dan popor senjata .

f. Kilap kayu

Berdasarkan tabel 6 dari hasil pengamatan 6 kayu  diperoleh bahwa kayu yang mempunyai kilap yang kusam yaitu : Johar (Casia siamea),  Pinus (Pinus mercusii),   Pulai (Alstonia scholaris),  Rotan (Calamus sp.). Yang agak mengkilap : Jambu batu (Psidium guajava), Sukun (Arthocurpus communis). Kilap kayu tergantung pada sudut datangnya sinar yang mengenai permukaan kayu dan juga tergantung pada tipe sel yang menyusun permukaan kayu. Misalnya, bidang radial lebih berkilau dari pada bidang tangensial, sehingga bidang radial lebih mengkilap dari bidang tangensial. Hal ini disebabkan oleh banyaknya noda pada jari-jari (ray flecks) yang dapat memantulkan cahaya pada bidang radial. Penyebab utama tentang ada tidaknya kilap pada kayu yaitu kandungan zat ekstraktif tinggi. Kayu yang mengandung zat-zat minyak atau lemak umumnya kurng mengkilap.

g. Arah serat dan kesan raba

Berdasarkan tabel 7  dari hasil pengamatan 6 kayu  diperoleh bahwa kayu yang mempunyai arah serat lurus yaitu : Johar (Casia siamea),  Pinus (Pinus mercusii),  Rotan (Calamus sp.), Pulai (Alstonia scholaris), Sukun (Arthocurpus communis). Dan yang terpadu  yaitu : Jambu batu (Psidium guajava). Arah sejajar sumbu panjang sebagian besar serat-serat kayu yang panjang dan meruncing disebut daerah serat. Arah serat dapat ditentukan oleh alur-alur yang terdapat pada permukaan kayu. Kayu dikatakan berserat  lurus ketika arah sel-sel kayunya sejajar sumbu batang. Dalam pohon jika arah serat terpuntir sepanjang batang pohon, maka kayu disebut berserat terpuntir.Serat terpuntir yang arahnya berselang-seling ke kiri atau ke kanan milai dari empulur sampai ke kulit disebut serat berpadu.Pada kayu gergajian jika arah serat menyimpang dari arah sumbuh panjang potongan kayu maka kayu disebut berserat melintang.

Berdasarkan tabel 7  dari hasil pengamatan 6 kayu  diperoleh bahwa kayu yang mempunyai kesan raba Johar (Casia siamea),  Pinus (Pinus mercusii),  Rotan (Calamus sp.), Jambu batu (Psidium guajava),  dan Sukun (Arthocurpus communis). Dalam konteks morfologi kayu, istilah serat menyatakan tipe sel yang lebih spesifik . karena adanya serat atau tepatnya disebut trakeid serabut adalah xylem kayu keras yang panjang, meruncing biasanya berdinding tebal. Dari pandangan sepintas nampak serupa dengan trakeid longitudinal, tetapi bila lebih diamati akan nampak perbedaan yang nyata. Dalam pohon jika arah serat terpuntir sepanjang batang pohon, maka kayu disebut berserat terpuntir.Serat terpuntir yang arahnya berselang-seling ke kiri atau ke kanan milai dari empulur sampai ke kulit disebut serat berpadu.Pada kayu gergajian jika arah serat menyimpang dari arah sumbuh panjang potongan kayu maka kayu disebut berserat melintang.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pratikum Sifat Makroskopis Kayu maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Rotan (Calamus sp.) tidak memiliki pori hanya memiliki berkas embuluh karena rotan merupakan tumbuhan monbokotil, warna  kecoklat-coklatan, tekstur  kasar (diameter sel serabut > 45 μ), kekerasaannya sedang, sangat ringan, kusam, arah serat lurus dan kesa raba kasar.

2.     Pinus  (Pinus mercusii )  tidak memliliki pori hanya memiliki trakeid, Warna kayu kecoklat-coklatan, tekstur kayu  agak kasar (diameter sel serabut 30-45 μ), kekerasannya sedang, berat/agak berat, kilap kayu kusam, arah serat lurus dan kesan raba kasar.

3.       Pulai (Alstonia scholaris) memiliki pori tata lingkar, warna kayu coklat tua, tekstur  kasar (diameter sel serabut > 45 μ), kekerasan kayu keras , ringan / agak ringan, kilap kayu kusam, arah serat lurus, dan kesan raba kasar.

4.     Johar (Casia siamea) memiliki pori tata baur, warna kayu kecoklat-coklatan, tekstur kayu agak kasar (diameter sel serabut 30-45 μ), kekerasannya sedang, berat/agak berat, kilap kayu kusam, arah serat lurus dan kesan raba kasar.

5.      Sukun (Arthocurpus communis)  memiliki pori tata lingkar, warna kayu  keputih-putihan, tekstur agak kasar (diameter sel serabut 30-45 μ) , kekerasan sangat lunak, sangat ringan, kilap kayu aga mengkilap, arah serat lurus, dan kesan raba kasar.

6.      Jambu batu (Psidium guajava) memiliki pori tata lingkar, warna kayu kecoklat-coklatan,  tekstur agak kasar (diameter sel serabut 30-45 μ),  kekerasan kayu keras , berat / agak berat, kilap kayu agak mengkilap, arah serat terpadu, dan kesan raba kasar.

B. Saran

Untuk mencengah terjadinya kerusakan pada kayu seperti timbulnya jamur pasda kayu perlu dilakukan upaya mencengahan seperti kayu yang mengalami proses pemotongan harus diangin-anginkan agar kayu yang mengandung air tersebut dapat segera tidak mengandung air.

Untuk asisten waktu membemberikan penjelasan jangan terburu-buru dan juga selalu mendampingi praktikannya pada saat praktek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: