Modus Pengangkutan kayu



Pemilihan Modus Pengangkutan Kayu

Tugas Pemanenan Hasil Hutan

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Beberapa tahun lalu, sektor kehutanan menjadi salah satu sumber penghasil devisa besar Negara dan bahkan sector kehutanan menjadi sector peneriaan devisa terbesar kedua setelah migas. Namun, kini sumbangannya makin mengecil, menyusul makin beratnya kerusakan hutan di Indonesia. Bahkan, setelah era reformasi dan otonomi daerah, pengusahaan hutan berlangsung tak terkendali. Perusahaan-perusahaan bidang kehutanan tumbuh pesat termasuk pemilik Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Dengan alasan memacu pertumbuhan ekonomi nasional hutan dibabat tanpa henti. Sedangkan upaya rehabilitasi berlangsung sangat lambat.

Dalam upaya untuk menghasilkan produksi kayu, maka hal yang perlu juga mendapatkan perhatian serius adalah kegiatan eksploitasi kayu. Salah satu kegiatan dalam eksploitasi kayu yang perlu diperhatikan adalah kegiatan pengangkutan.  Kegiatan pengangkutan merupakan kegiatan memindahkan kayu ke tempat penampungan kayu atau ke industry pengolahan kayu.

Kegiatan pengangkutan sangat penting untuk kita perhatikan karena pengangkutan turut mempengaruhi kayu yang telah dipanen sebelumnya. Kualitas kayu bisa saja berubah karena terkendala pada aspek pengangkutannya. Kayu yang terlalu lama di lokasi pemenenan akan menurunkan kualitas kayunya. Dalam kegiatan pemanenan terdapat beberapa jenis pengangkutan kayu yang akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.

Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup memberikan peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia. Sebagai salah satu sumber devisa, hasil huan yang berupa kayu olahan menduduki peringkat kedua setelah migas.

Pemanenan hasil hutan adalah serangkgaian kegiatan kehutanan yang mengubah pohon atau biomassa lainnya, sehingga bermanfaat bagi keghidupan ekonomis dan kebudayaan masyarakat. Salah satu kegiatan yang termasuk dalam kegiatan pemanenan hasil hutan adalah pengangkutan kayu ke tempat penimbunan kayu atau ke empat pengolahan selanjutnya.

Pengangkutan di dalam kegiatan kehiyanan adalah pengangkutan balak (log) dari tempat penebangan sampai ke tempat tujuan akhir seperti tempat penimbunan kayu (TPK) atau langsung ke konsumen. Tujuan pengangkutan kayu adalah agar kayu dapat samapai di tujuan pada waktu yang tepat secara kontinu dengan biaya yang minimal. Kayu akan turun kualitasnya apabila terlalu lama diabiarkan di dalam hutan.

II. FAKTOR-FAKTOR PEMILIHAN MODUS

PENGANGKUTAN KAYU

Pemiliahan modus pengangkutan kayu sangat penting. Pengangkutan merupakan kegiatan utama dan mendasar dalam kegiatan pemanfaatan hasil hutan. Hal ini didasarkan pada kenyataan sebagi berikut :

  1. Kayu adalah bahan yang relatif murah per satuan berat dan volume.
  2. Volume kayu besar (voluminous) dan bobotnya berat.
  3. Hutan-hutan produksi umumnya terletak di tempat yang jauh dan tegakannya tersebar luas.
  4. Pada umumnya wilayah hutan bertopgrafi berat dan arealnya dipotong oleh lembah dan sungai.
  5. Biaya pengangkutan merupakan pos pembiayaan terbesar dalam kegiatan pemanenan.
  6. Modus pengangkutan kayu dibedakan menjadi pengangkutan melalui air dan pengangkutan melalui darat.

Faktor-faktor yang menentukan cara pengangkutan adalah : biaya, ukuran panjang dan berat kayu, ketersediaan tenaga kerja, jarak ke pabrik pengolahan kayu, besarnya operasi, topografi, iklim, milai tegakan dan permintaan pabrik setiap tahun, serta peralatan yang digunakan.

III. PENGANGKUTAN KAYU MELALUI AIR

Perakitan log adalah salah satu cara pengangkutan kayu yang paling murah serta termasuk salah saatu cara pangangkutan kayu yan paling tua untuk membawa log kepada para pemakai.

Beberapa factor yang menyebabkan pengangkutan kayu melalui air banyak diminati antara lain  sebagai berikut :

Selain memiliki kelebihan-kelebihan, pengangkutan kayu hasil tebangan melalui air juga menimbulkan dampak yang negative, antara lain:

Pengangkutan memlalui air relatif murah dan tidak memerlukan invenstasi untuk pembuatannya. Kerugaiannya adalah bahwasanya lokasi sungai tidak selamana sesuai dengan yang diharapakan. Terutama untuk pengangkutan kayu, sungai adalah sarana yang paling murah, karena volume angkutan setiapritt dapat besar sekali sehingga biaya per satuan volume menjadi kecil.

Cara pengangkutan kayu jarak jauh yang paling tua adalah dengan menghanyutkannya secara lepas. Namun cara ini sudah lama tidak digunakan karena mengganggu fasilitas umum dan banyaknya kayu yang hilang di tengah perjalanan. Sekarang cara umum dipakai adalah perakitan, atau dengan tongkang.

IV. KONSTRUKSI RAKIT

Kayu gelondongan (log) yang diangkut melalui air atau sungai dengan sistem rakit, terlebih dahulu dikumpulkan di logpond. Kayu yang dirakit menjadi satu kesatuan sehingga mudah dikendalikan. Cara penyusunan kayu menjadi bentuk rakit ada dua, yaitu konstruksi melintang dan konstruksi membujur.

Rakit dengan konstruksi membujur lebih sesuai untuk pengangnkutan melalui sungai yang sempit, banyak belokan dan berarus deras, serta untuk pengangkutan mel;alui laut, hal ini disebabkan penampang kayu y6ang menahan air lebih kecil dibandingkan dengan konstruksi yang melintang. Rakit dengan konstruksi melintang pada umummnya dibuat untuk pengangkutan di sungai yang lebar dengan arus yang tenamg.

Konstruksi rakit menurut Juta (1954) dipengaruhi oleh berat jenis kayu yang dirakit. Ditinjau dari berat jenis kayunya, maka kayu-kayu yang akan dirakit dapat digologkan sebagai berikut :

a. Terapung

Berat jenis kayu yang dirakit kurang dari satu, misalnya terdiri dari campuran kayu jati dan berbagai jenis meranti (Shorea Spp.) atau dapat juga berupa ikatan bambu.

b. Melayang

Berat jenis kayu kurang lebih sama dengan satu dan pada umumnya terdiri dari jenis kayu keruing (Dipterocarpus spp.)

c. Tenggelam

Berat jenis kayu lebih besar dari satu, misalnya kayu besi (Eusideroxylon zwageri).

Putra (1996) menyatakan bahwa bahan-bahan untuk membuat rakit adalah paku U, paku I (ring), kabel ukuran 1 inchi, kabel ukuran 0,5 inchi dan kayu bam, sedangkan peralatan yang digunakan adalah kapak dan tonglat pengait (gancu). Tongkat pengait ini berfungsi untuk membantu menarik kayu agar mudah menyusunnya. Bentuknya yang runcing, sedikit bengkok dan terbuat dari besi dengan pegangan kayu yang panjang.

V. PROSES PEMBUATAN RAKIT

Pembuatan rakit dilakukan setelah kayu cukup banyak terkumpul di logpond. Dalam pembuatan rakit, faktor kelancaran angkutan kayu dari tempat tebangan ke logpond sangat menentukan, karena apabila persediaan kayu di logpond kurang akan menghambat pekerjaan pembuatan rakit.

Kayu yang telah terkumpul dijatuhkan ke sungai (dilego) dengan menggunakan alat pelego crane. Kayu yang dijatuhkan tersebut langsung disusun oleh buruh pembuat rakit yang telah terampil merakit log di dalam air. Menurut Putra ( 1996) jumlah tenaga dalam satu regu perakit terdiri dari 6 orang dengan 3 orang tenaga pengikat dan 3 orang pembantu.

Pembuatan rakit dilakukan per rakit kecil (50-100), dimana kayu-kayu yang telah siap dirakit satu sama lain diikat dengan kabel yang kemudian diPAKU DI KEDUA UJUNG KAYU. Jenis paku yang digunakan ada dua yaitu paku U dan paku I. Mula-mula kabel dimasukkan ke dalam lubang paku I, kemudian sambil kayu disusun dipasangkan kabel pengikat di kedua sisi ujung dan tengah kayu dan kemudian dipaku. Kayu tengggelam disusun di antara kayu-kayu terapung dengan perbandingan rata-rata 1 : 2, dimana satu kayu tenggelam terdapat dua kayu terapung.

Sebagai pembantu dalam mengikat kayu tenggelam digunakan bam, yaitu dibuat dari kayu dengan diameter sekitar 10 cm dengan panjang 7 meter yang dipasang melintang di atas rakit dan diikiat dengan kabel. Setelah selesai mengikat kayu sebanyak 12-21 rakit kecil, lalu satu sama lain digabungkan dengan cara menyimpulkamatikan ujung kabel rakit satu dengan yang lainnya.

Pembuatan rakit dilakukan pada sat air pasang, keadan air tenang, tidak ada pukulan ombak, dan arus sungai tidak begitu deras. Pada daerah yang dipengaruhi oleh pasang surut, pada saat air surut logpond menjadi dangkal dan kayu tertimbun di daratan sehingga sulit menyusunnya. Oleh karena itu rakit disusun pada saat air pasang. Pasang surut terjadi dua kali sehari, sehinga perakitan maksimal dua kali sehari. sebuah rakit terdiri dari 1600 susunan batang kayu dengan volume sekitar 1650 m3.

VI. TEKNIK PENGANGKUTAN KAYU DI HUTAN RAWA GAMBUT

Mengingat kondisi alam yang membtasi, pengangkutan kayu di hutan rawa banyak dilakukan dengan menggunakan jalan rel. Pengangkutan kayu melalui jalan rel ini pada hakekatnya ada dua cara, yaitu cara pertama dengan menggunakan lori yang didorong oleh orang dan cara kedua dengan menggunakan lori yang ditarik loko. Pada umumnya kegiatan pengangkutan melalui jalan darat ini kemudian dilanjutkan melalui jalan air dengan sistem rakit.

Faktor-faktor yang menentukan cara pengangkutan adalah sebagai berikut :

a)      Biaya

b)      Ukuran panjang dan berat kayu

c)      (3)tersedianya tenaga kerja

d)     Jarak ke pabrik pengolahan kayu

e)      Besarnya biaya operasi

f)       Pertimbangan iklim

g)      Topografi

h)      Nilai tegakan, dan

i)        Permintaan pabrik setiap tahun.

Adapun keuntungan pengangkutan melalui jalan rel sebagai berikut :

  1. Kapasitas angkut relatif besar
  2. Pengngkutan kayu relatif teratur
  3. Tidak tergantung musim dan cuaca
  4. Biaya angkutan relatif murah

Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut:

  1. Tanjakan maksimum hanya 3 %, sehingga tidak dapat digunakan pada topografi berat
  2. Pengangkutan di atas rel memerlukan volume besar tiap rit secara berkesinambungan untuk membuatnya ekonomis
  3. Sarana jalannya tidak bisa digunakan untuk umum
  4. Investasi untuk jalan dan sarana tinggi

VII. SISTEM PENGANGKUTAN KAYU

Pengangkutan kayu (major transportation) di hutan rawa dimulai dari memuat kayu di betou (Tpn) sampai ke log pond (TPK). Kegiatan pengangkutan di areal HPH PT. kurnia Musi Plywood Industrial Co. Ltd. meliputi pembuatan jalan rel dan pengangkutan kayu dari betou ke logpond.

a. Pembuatan jalan rel

Hutan rawa dengan kondisi areal yang tanahnya bergambut dan basah, serta memilki topografi yang datar (0-8 %) sehingga jenis jalan yang paling sesuai adalah jaringan jalan rel. Jalan rel ini terdiri dari susunan kayu dan rel besi sebagi tempat meluncurnya loko dan lori.

Pembuatan jalan rel ini dilakukan secara terus-menerus sepanjang tahun dengan cara memindahkan rel besi dari satu areal tebangan ke areal tebang yang lain. Pekerjaan pembuatan jalan rel dimulai dengan pembuatan rencana jaringan jalan di atas peta, kemudian rintisan sesuai dengan rnecana di peta, pembuatan galkang dan pemasangan rel. Pembuatan jalan rel ini dilakukan dengan system borongan.

Panjang jalan rel yang telah direalisasikan sejak beroperasi sampai tahun 1997 sepanjang 373,60 km. Adapun realisasi pembutan jalan rel tahun 1996/1997 adalah 20 km. Jarak rata-rata pengangkutan kayu dengan loko dari betou (Tpn) ke logpond pada saat penelitian ini adalah 16,375 km.

Pemeliharaan dan perbaikan jalan rel dilakukan oleh regu pekerja harian. Pemeliharaan jalan angkutan ini dilakukan oleh regu pekerja setiap hari yang terdiri dari 2 regu dengan anggota empat orang. Tugas dari pekerja ini adalah memperbaiki jalan rel yang rusak yakni galangan yang rusak (lapuk), paku rel yang lepas, plat sambungan rel yang lepas, membersihkan jalan rel dari semak dan membersihkan jika pohon yang tumbang di atas rel.

b. Pengangkutan dengan loko dan lori

Pengangkutan kayu dari betou sampai ke logpond di areal HPH PT Kurnia Musi Plywood Industrial Co. Ltd di tepi Sungai Merang dilakukan melalui jalan darat dengan menggunakan rangkaian lori dengan tenaga loko bermesin diesel merk Yanmar TS 230 R buatan Jepang yang dibeli tahun 1995. Mesin tipe ini mempunyai tenaga dengan daya kerja minimum 18 DK/2200 rpm dan maksimum 23 DK/2200 rpm denganisi langkah 1132 cc.

Pengangkutan dilakukan untuk mengangkut kayu yang berada di betou ke log pond. Jarak angkut rata-rata yang ditempuh dari log pond ke betou pada sat penelitian adalah 16,375 km. Satu buah loko mempunyai 15 set lori yang dikerjakan oleh satu regu pekerja yang berjumlah 4-6 orang dan satu orang menjadi operator dengan menggunakan sistem upah borongan.

VIII.  ELEMEN KERJA PENGANGKUTAN

Tahapan kegiatan pengangkutan kayu dengan menggunakan lokotraksi meliputi :

1. Berjalan kosong, merupakan tahap awal dari kegiatan pengangkutan dimana loko menarik dan mendorong lori ( 8 set lori ditarik dan 7 set lori didorong) menuju betou. Tahapan kegiatan ini meliputi :

2. Memuat, merupakan kegiatan menaikkan kayu ke ats lori dengan menggunakan

locak. Tahapan kegiatan memuat ini meliputi :

3. Mengangkut, kegiatan mengangkut kayu merupakan tahap dimana lori yang telah dimuati kayu mulai berangkat dari betou menuju log pond. Tahapan kegiatan ini meliputi:

Pada saat perjalanan bermuatan ini dilakukan penaburan pasir putih yang berfungsi untuk meningkatkan daya traksi roda lori dengan rel dan pemasngan kulit-kulit kayu pada sambungan rel yang berfungsi untuk mengurangi kemungkinan roda loko dan lori yang keluar dari rel akibat sambungan rel tidak rata.

4. Membongkar, merupakan kegiatan menurunkan kayu dari atas lori ke logpond. Kegiatan ini dimulai dengan melepas tali pengikat.

IX.  PRODUKTIVITAS PENGANGKUTAN KAYU

a. Waktu Kerja dan Produktivitas Pengangkutan

Pengukuran waktu kerja (time study) bertujuan untuk menentukan waktu yang diperlukan oleh pekerja normal menyelesaikan pekerjaan dasar dalam menentukan produktivitas kerja.

Waktu kerja pengangkutan kayu dengan menggunakan lori yang ditarik/didorong loko adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengangkut kayu dari betou ke logpond. Pengukuran waktu kerja pengangkutan, yakni loko dan lori berjalan kosong menuju betou, memuat, berjalan bermuatan menuju logpond dan membongkar muatan.

Waktu kerja kegiatan pengangkutan dengan menggunakan lokotraksi di areal HPH PT Kurnia Musi Plywood Industrial Co. Ltd adalah 608,990 menit dengan volume angkut rata-rata 42,626 m3 dan jarak angkut rata-rata 16,375 km. Waktu kerja rata-rata efektif selama kegiatan pengangkutan ini adalah 528,255 menit. Waktu hilang yang begitu besar mencapai 81,845 menit mengakibatkan waktu yang dibutuhkan selama pengangkutan menjadi lebih lama.

Waktu hilang yang dapat dihindarkan pada kegiatan pengangkutan pada kegiatan pengangkutan ini adalah roda loko dan lori keluar dari jalan rel sebesar 50,365 menit (8,27 %), disebabkan kondisi jalan angkutan (jalan rel) yang rusak. Besarnya waktu hilang ini disebabkan roda lori atau loko keluar rel sehingga pekerja membutuhkan waktu untuk mengembalikan roda loko atau lori diakibatkan oleh kondisi jalan rel yang dilalui.  Kondisi jalan rel yang rusak, menyebabkan seringnya roda loko dan lori keluar jalur rel.

DAFTAR PUSTAKA

Brown, N.C. 1958. Logging. John Wiley and Sons, Inc. New York.

Elias. 1999. Modus Pengangkutan Kayu di Indonesia. IPB Press. Bogor.

Juta, E.H.P. 1954. Pemungutan Hasil Hutan. Timun Mas. Jakarta.

Putra, A.Y. 1996. Analisis Biaya Pengangkutan Melalui Air dengan Sistem Rakit di Propinsi Riau. Skripsi Fakultas Kehutanan IPB Bogor. Bogor.

Suparto, R.S. 1979. Eksploitasi Hutan Modern. Fakultas Kehutanan IPB Bogor. Bogor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: